Bekerja Atas Nama Cinta

Setelah 3 tahun 9 bulan berdedikasi untuk Fadli Zon Library akhirnya gw memutuskan resign dari kantor ini. Ada perasaan seneng campur sedih meninggalkan semua hal yang ada disini. Seneng karena gw bisa mencari pengalaman baru, suasana baru, menambah relasi baru, juga wawasan yang baru. Sedih karena gw harus meninggalkan orang-orang yang udah gw anggap seperti keluarga, juga segala kenangan di setiap sudut kantor layaknya rumah sendiri. Apalagi pelukan pak bos setelah pamitan kemaren bikin hati gw nyeesss :(.

Selama itu gw berada di ruang kerja lantai 2 dengan meja besar berwarna hitam dan kursi super empuk andalan, disertai camilan-camilan di atas meja yang sering gw rampas dari lantai bawah demi memuaskan nafsu makan gw yang berlebih,haha *ketawa jumawa* Etalase kaca depan meja kerja yang berisi penuh arca-arca serta aksesori berlapis emas yang entah hadir di zaman kapan, terkadang suka gw pakai beberapa buat properti foto. Koleksi perangko dan koin lama yang dipajang dengan apik di dinding rak. Lukisan macan tutul di belakang meja kerja yang menjadi saksi bisu apa aja yang gw browsing selama ini kalo lagi ngga kerja. Lorong-lorong perpustakaan yang seringkali berdebu karena makin kesini jarang dibersihkan oleh pengurusnya. Keris-keris dan tombak-tombak disudut kanan yang berjajar rapi serta berbagai lukisan dan patung yang selama ini menemani  gw di ruangan, mereka selalu berada di tempat yang sama. Etalase kaca dekat keris dan tombak berjajar, ada kumpulan kotak berisi surat kabar masa lampau, yang untuk membuka lembarannya saja membutuhkan usaha yang ekstra saking besarnya. Atau meja catur yang lebih sering gw liat-liat aja ketimbang memainkannya, karena memang pada dasarnya gw ngga bisa main catur. Dan masih banyak lagi. Semuaaaaa…semua sudutnya punya kenangan tersendiri buat gw. Bahkan pejam mata pun gw bisa mendeskripsikan ruangan tersebut.

Gw cinta dengan semua sudut ruangan disini. Walaupun dengan AC 2 buah yang lebih sering mengeluarkan hawa hangat ketimbang sejuknya padahal sudah berkali-kali di service. Atau intenet yang super cepat tapi terkadang suka mati kemudian nyala kembali, entah kenapa. Atau listrik yang terkadang turun karena tidak kuat dengan beban yang dipakai dan secara otomatis komputer pun mati tiba-tiba dengan kerjaan yang belum di save. Atau CPU yang tiba-tiba error akibat fumigasi. Atau printer yang juga ikutan error sehingga untuk ngeprint gw harus bolak balik ke lantai 1 *mungkin gw memang harus sedikit olahraga* Semua itu hampir gw alami setiap hari, dan tetap tidak mengurangi kecintaan gw pada Fadli Zon Library.

Dulu ketika gw baru menginjakkan kaki di tempat ini, suasana lantai 2 “dingin”, ya wajarlah isinya benda berhala macam patung, lukisan, keris dan arca-arca zaman dulu. Lama kelamaan gw makin terbiasa dengan situasi ini, dan berangsur-angsur hawanya pun mulai menghangat. Beruntungnya selama gw disana, ngga pernah sekalipun menemukan “kejadian-kejadian” aneh. JANGAN SAMPE!

Bisa dikatakan pekerjaan yang gw geluti sekarang adalah pekerjaan paling monoton sedunia dan tentunya dipandang sebelah mata. Hari gini siapa sih yang kepengen jadi librarian/arsipris? Mungkin hanya segelintir orang yang salah masuk jurusan atauuuuuu…kutu buku mungkin. Apalagi di Indonesia kurang sekali dengan yang namanya menggalakan gemar membaca. Perpustakaan adalah jurusan yang jauh dari ketenaran, setidaknya mayoritas orang mengatakan demikian. Setiap hari mengerjakan rutinitas yang sama, berinteraksi dengan benda mati, tidak ada kepastian jenjang karir, terkadang yang bikin melelahkan adalah harus naik turun tangga untuk shelving karena rak yang memang tinggi-tinggi . Oh ya kerja di perpustakaan cukup beresiko juga loh, jangan salah. Ngga jarang gw ketiban buku tebel, tangan beset-beset karena kepentok ujung buku bahkan jari-jarinya kegores kertas buku baru yang masih tajem-tajem. Apa enaknya? Gw bukanlah orang yang gemar membaca, tapi suka dengan buku. Dari kecil gw suka mengumpulkan buku. Gw suka ngerawat buku, ngerapihin buku, atau menata buku biar tersusun dengan rapi. Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat buku-buku tersebut terpampang di rak. Apalagi bisa memberikan informasi yang dibutuhkan penggunanya. Rasanya puas. Gw lebih seneng dikatakan sebagai staf informasi. Selain terdengar lebih kece di telinga, buat gw informasi itu ngga melulu tentang buku.

Bekerja tuh emang harus dengan cinta biar bahagia lahir batin. Mau apapun pekerjaannya, buat gw, asal kita mencintai pekerjaan tersebut dan mengerjakannya dengan ikhlas semuanya pasti akan terlihat menyenangkan. Bosan itu hal yang lumrah, pinter-pinternya kita aja menyiasati. Tapi jangan terbawa suasana yang bikin kita malah jadi males bekerja. Kecintaan gw terhadap pekerjaan yang membuat gw bertahan sampai selama itu di Fadli Zon Library. Mungkin suasana yang tenang dan bebas dari under pressure adalah faktor yang juga membuat gw kerasan berada disini, homey dan juga kekeluargaan. Di tempat yang baru gw belum tentu bisa merasakan kenyamanan kaya disini. Ya tapi apapun pekerjaannya pasti punya resiko masing-masing. Kalo ngga ada tantangan dan tetap berada dalam zona kenyamanan orang tidak akan berkembang bukan? Paling tidak carilah pekerjaan yang kita cintai. Jadi nikmatilah apapun pekerjaan kita sekarang, bersyukurlah karena diantara jutaan pengangguran kita termasuk orang yang beruntung karena punya pekerjaan dan penghasilan. Dan perlu diingat bekerjalah atas nama cinta 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s