Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

-Sapardi Joko Damono-

Kurang lebih inti sajaknya melambangkan tentang peristiwa yang datangnya pada waktu yang tidak tepat. Bulan Juni digambarkan sebagai musim kemarau, saat semestinya hujan tidak datang di bulan tersebut.

(Travel Diaries – 10) Traveling With Love: Paradise in Bali

27-30 Agustus 2012

Bali memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Sebut aja Kuta, Dreamland, Tanjung Benoa dan Sanur yang sudah terkenal dan umum dikunjungi banyak orang. Tapi pantai cantik di Bali ngga melulu seperti yang disebutkan tadi. Masih banyak pantai lain yang (bahkan) lebih cantik dan masih terbilang sepi karena namanya (mungkin) belum tenar.

Setelah melaut menggunakan speed boat dari Lombok, sampailah kita di Bali sekitar jam 12. Travel agent kapal kita menurunkan di depan Monumen Bom Bali. Dan destinasi kita selanjutnya adalah mencari penginapan murah meriah di Poppies Lane II. Kita menginap di Suka Beach Inn dengan harga per malamnya 320ribu, sudah include sarapan. Fasilitasnya standar hotel-hotel pada umumnya: double bed, private bathroom (shower+closet duduk+hot water), AC, TV, kulkas, lemari, meja rias, rak handuk plus dapet balkon gede buat duduk-duduk santai. Kamarnya sangat bersih dan luas. Tersedia juga pelayanan untuk yang mau laundry.

Tidak jauh dari penginapan ini ada warung makan favorit gw, namanya Warung Indonesia. Menjual berbagai masakan khas Indonesia dengan harga yang cukup murah. Oh ya, untuk rental motor harga sewa per harinya 50ribu. Menurut gw jalan-jalan di Bali enaknya sih pake motor daripada mobil.

Liburan di Bali kali ini adalah beach hoping. Gw berniat untuk mencoba pantai-pantai di Bali yang belum terlalu terkenal. Mulai dari Canggu Beach, Balangan Beach, Padang-padang Beach dan berakhir di Suluban Beach *eh pantai-pantai yang gw sebutin itu ngga terkenal kan yah?*

Pantai pertama yang dikunjungi adalah Pantai Canggu. Terletak di daerah Kabupaten Badung, kearah Krobokan. Pantai ini bagus untuk yang suka berselancar. Untuk pemula, jangan khawatir, ada instruktur berpengalaman kalo ingin mencoba. Harga per paketnya 300ribu selama 2 jam. Karena ombaknya di pantai ini cukup bagus, jadilah pantai ini sebagai incaran wisatawan mancanegara yang ingin berselancar. Selain berselancar, kita juga bisa menikmati sunset. Disini juga banyak cafe dan tempat jajanan. Jadi ngga perlu khawatir kelaparan. Yang buat gw ngerasa “ngga banget” adalah di pantai ini banyak banget anjing 😦 Baik anjing liar maupun anjing peliharaan. Makan aja ditemeninnya sama anjing, errr…..

Ini adalah pantai favorit gw, Pantai Balangan. Tekstur pasir di Pantai Balangan agak sedikit kasar, bukan tipe pantai yang bertipe pasir halus pada umumnya. Kalo jalan kaki di pasirnya pun “jeblos” gitu (duh jeblos dalam Bahasa Indonesia apa yah?). Masuk kesini ngga dikenakan biaya apapun. Gratis! Bahkan untuk parkir sekalipun. Buat yang pengen menikmati suasana yang sepi, Pantai Balangan sangat pas untuk dikunjungi. Selain pantai dan pemandangannya yang memang indah, suasananya pun nyaman dan tenang. Cocok juga buat yang suka berjemur. Uniknya pantai ini, saat kita menuruni anak tangga, ada kubangan-kubangan berwarna hijau berbagai bentuk yang membuatnya berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Untuk yang mau leyeh-leyeh berjemur di pantai, membaca buku atau menikmati es kelapa muda, kita bisa menyewa kursi pantai sebesar 50ribu.

20140226-003115.jpg

Pantai yang selanjutnya gw kunjungi adalah Pantai padang-padang. Masih asing denger nama itu? Lokasinya berdekatan dengan Pantai Dreamland. Untuk menuju kesana searah dengan GWK atau Uluwatu. Pintu masuknya melewati Pecatu Indah Resort, dari situ lurus aja terus, ada penandanya menuju Pantai padang-padang. Biaya masuknya hanya membayar parkir 2ribu untuk kendaraan bermotor, dan 5ribu untuk mobil. Pantai Padang-padang tidak seluas Pantai Dreamland, tapi menurut gw pantainya lebih cantik. Karena saat gw kesana lagi peak season jadi rame banget. Mayoritas wisatawan mancanegara, turis lokal bisa dihitung dengan jari. Ombak di pantai ini juga relatif tenang, jadi agak kurang oke untuk aktifitas surfing. Disini orang lebih banyak orang berjemur, berenang dan menikmati sunset.

20140226-003340.jpg

Dan terakhir adalah pantai favorit gw juga. Namanya Pantai Suluban. Letaknya tidak jauh dari Padang-Padang. Sama dengan Pantai Padang-padang, biaya masuknya hanya membayar sewa parkir. Untuk menuju Pantai Suluban, dari parkiran kita harus menuruni beberapa anak tangga yang sedikit agak sempit. Jadi setiap orang harus bergantian jalannya. Disini banyak cafe-cafe yang viewnya langsung ke laut. FYI kamar mandi umum disini bersih, tapi biayanya agak sedikit mahal. Buang air kecil 5ribu, mandi 10ribu. Kalo buang sial berapa yah?*aiiiih*

Pantai Suluban itu agak sempit, karena ada beberapa batu besar di pinggir pantai, juga banyak karangnya. Ombak disini cukup besar, cocok untuk yang menyukai surfing. Tapi sayang banget kita kesini menjelang sore, jadi air lautnya sedang pasang, ngga bisa lama-lama deh berenangnya *padahal pake baju renang doang ngga bisa berenang* Pemandangan disini indah banget, apalagi sunsetnya lebih bagus ketimbang di Canggu Beach (menurut gw). Di pantai ini kebanyakan pengunjungnya orang lokal daripada turis mancanegara. Mungkin karena pasirnya basah, jadi turis kurang suka berjemur disini.

20140226-003507.jpg

Segitu dulu informasinya tentang Bali, mungkin bisa jadi alternatif liburan kalian.

Happy traveling!

(Travel Diaries – 9) Traveling With Love: Paradise in Lombok

24-26 Agustus 2012

Lombok bisa dikatakan destinasi liburan yang pesonanya sayang untuk tidak dinikmati. Siapa sangka tahun lalu gw berucap “suatu saat pasti gw akan menjajaki Lombok” pada akhirnya tahun ini, tepatnya bulan Agustus, keinginan pun jadi kenyataan. Hore!

Traveling kali ini dalam rangka quality time bersama orang-orang tercinta. Salah satu sahabat gw, temen seperjuangan, seperkuliahan dan seperboboan sebentar lagi akan minggat dari Indonesia dan akan melanjutkan studinya ke Budapest, ya singkat kata mau menghabiskan sisa waktu bersama *kaya mau mati besok yah* btw, ini adalah traveling terpanjang gw. Seminggu! And finally here we go, Lombok 🙂

Penerbangan kali ini gw menggunakan maskapai Lion Air Jakarta-Lombok seharga 740ribu dan pulang lewat Bali menggunakan maskapai Air Asia seharga 637ribu. Penerbangan Jakarta-Lombok memakan waktu 2 jam perjalanan. Ini kali pertama gw menginjakkan kaki di Bandara Praya Lombok. Kebersihan disini menurut gw kurang, tapi jauh lebih baik lah ketimbang Bandara Ngurah Rai Bali yang suasananya semrawut kaya di ITC gitu. Sesampainya di bandara, kita udah memesan rental mobil sebelumnya, Pak Marwan namanya (081936715968). Kita memilih mobil Xenia dengan harga 300ribu/hari tanpa supir. Karena masih menjelang lebaran, harga sewa mobil agak sedikit mahal. Tapi kalau lagi low season harganya bisa jauh lebih murah dari itu.

Destinasi pertama gw adalah mengunjungi pantai yang namanya sudah tidak asing lagi: Pantai Senggigi. Menurut gw pantainya standar aja.

Setelah numpang lewat di Sengiggi (dan tanpa berfoto), jalan-jalan kita berakhir sementara dengan makan siang di daerah Cakranegara, Mataram. Gw menemukan resto Ayam Taliwang yang rasanya endeuuus banget, nama restonya Ayam Taliwang Irama, berada di Jalan Ade Irma Suryani. Sumpah enaaaaaakkkk! Kalo main ke Mataram, wajib mampir ke tempat ini deh. Es kelapa crystal-nya juga mantap banget. Es kelapa muda dengan campuran madu putih dan sarang burung walet. Oh iya nasi putih disini itungannya per orang, bukan per piring. Jadi, bisa makan sepuasnya. Hore banget buat para kuli nista seperti kami.

Selesai mengisi perut yang keroncongan, kita pun lanjut ke Pantai Kuta Lombok. Not bad-lah, tapi disini rame banget. Keramaiannya kurang lebih sama aja kaya Pantai Kuta Bali. Tapi pantainya jauh lebih bagus ketimbang Kuta di Bali. Beberapa tahun yang lalu, menurut teman gw Kuta Lombok masih sepi. Sekarang sudah banyak bungalow, ATM tersedia dimana-mana, resto-resto dengan berbagai pilihan pun bertebaran *tempat prostitusi aja kali yang belum ada yah* *PLAK!*. Kuta Lombok sekarang sudah banyak kemajuan. Saking ramenya gw malas berlama-lama disini, mungkin karena lagi peak season juga. Lagi pula sudah terlalu sore, masih ada destinasi yang mau kita kunjungin.

Tanjung Aan. Ngga jauh dari Pantai Kuta Lombok kita bisa menikmati pantai yang indah banget, tepatnya di sebelah timur. Sayangnya kita kesini sudah sore, jadi agak gelap. Tanjung Aan terkenal dengan pasirnya yang putih dan bersih. Gw suka banget disini, recommended. Tempatnya agak sepi. Mungkin karena pantainya ngga bisa dipakai buat berenang, snorkeling ataupun surfing, orang jadi kurang tertarik. Atau mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui keindahan Tanjung Aan. Untuk menuju kesana track yang harus dilalui lumayan panjang dan jauh. Ada beberapa jalan yang memang kurang mulus, untungnya pake mobil rental. Hajaaaarrr! Kalau sudah menjelang malam daerah Tanjung Aan tidak tersedia penerangan. Jadi yang mau kesini jangan sampe pulang kemaleman ya, karena gelap banget.

Dari Tanjung Aan kita bermalam di daerah Mataram. Di Mataram banyak tersedia penginapan yang murah. Pilihan kita jatuh pada Hotel Caturwarga. Harga per malamnya 250 ribu sudah termasuk sarapan (teh manis+roti). Fasilitas hotel ini double bed, TV LCD, AC, private bathroom (shower+toilet duduk+hot water), lemari, meja dan kursi. Hotelnya bersih dan nyaman.

Satu hari menginap di Mataram, besoknya kita langsung menyebrang ke Gili. Next destination kita adalah Gili Trawangan, diantar langsung ke bangsal oleh supir rental. Untuk menuju bangsal, yang merupakan tempat penyebrangan menuju Gili Trawangan, harus disambung lagi dengan mengendarai delman. Orang Lombok menyebutnya dengan cidomo, tarifnya 20ribu.

Untuk menuju Gili Trawangan, kita menggunakan perahu motor seharga 10ribu/orang, kalau mau carter perahu juga bisa, dipatok harga 70ribu/kapal, dan mereka ngga mau ditawar aja loh. Kira-kira perjalanan dari bangsal menuju Gili Trawangan kurang lebih 45menit. Buat yang takut ombak dan suka mabuk laut, jangan lupa sedia antimo atau minyak angin, hehe.

Memang luar biasa pantai di Gili Trawangan ini, indah banget dengan pasir putih di sepanjang pantainya. Setelah jalan-jalan dan tengok sana sini, kita pun mencari tempat penginapan. Gw menyewa penginapan yang tidak jauh dari pantai. Nama hotelnya Sunrise. Bentuknya ada yang biasa ada yang seperti rumah gubuk khas Lombok, setiap kamar ada hammock di depannya. Hotelnya cukup besar, kamar mandinya pun luas. Kisaran hotel di Gili Trawangan rata-rata 400ribuan ke atas untuk yang AC. Yang Non AC tentunya banyak yang lebih murah. Kalau mau hotel dengan kisaran 300ribuan ber-AC juga ada, tapi letaknya agak jauh di dalam dan pastinya tidak terlalu berdekatan dengan pantai.

FYI, di Gili hampir semua airnya payau. Jadi kalau sikat gigi atau mandi ya bakal kerasa asin-asinnya gitu, iyuuuhhh banget bikin mual. Gw sikat gigi kumur-kumurnya aja pake aqua. Suasana di Gili Trawangan serupa dengan Kuta Bali. Hingar bingar. Party All Night Long. Pub, bar, resto bertebaran di kanan kiri sepanjang jalan dari ujung ke ujung. Dan pastinya Gili Trawangan itu bikini, underwear and boops everywhere.

FYI, di Gili tidak ada penyewaan motor, transportasi disini hanya menggunakan sepeda dan cidomo. Udaranya bebas polusi. Jadi seger banget. Orang-orang disini lebih banyak yang berjalan kaki.

Untuk restonya, gw pastikan semua rasanya standar. Western Food, Chinese Food ataupun Indonesian Food semua rasanya kurang lebih sama. Tidak ada yang istimewa. Gili Trawangan hanya menawarkan suasana dan tempat yang ciamik, langsung menghadap ke pantai. Untuk masalah rasa makanan disesuaikan dengan lidah bule. Kisaran harga makanannya 30ribu keatas dan semua restonya dikenakan pajak 15-20%. Sedangkan untuk orang lokal yang berjualan disini bebas pajak. Jadi gw sarankan mending lebih memilih tempat makan orang lokal, selain harganya yang lebih terjangkau soal rasa juga jauh lebih enak.

Di Gili Trawangan, ada 1 tempat makanan lokal favorit gw, rasanya lebih enak dibanding warung jajanan lokal lainnya. Buat yang suka makanan “medok” bumbu, coba deh mampir di Warung Kino ini. Pasti banyak orang yang kurang aware dengan tempat ini, karena letaknya agak menjorok ke dalam. Warung ini menyajikan masakan rumahan yang semua jenis masakannya rasanya enak dan harganya terbilang murah.

Ngga lama di Gili Trawangan, besoknya gw menyebrang ke Gili Air, pulau kecil yang berada di sebelah barat Pulau Lombok. Salah satu dari 3 Gili yang terkenal, Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno (sayang gw ngga sempet ke Meno). Jarak antara ke 3 Gili ini tidak terlalu jauh. Untuk menuju Gili Air bayar perahu motornya 23ribu/orang, sedangkan kalau mau carter 200ribu/kapal untuk sekali jalan. Gw pilih yang carter dong. Etapi bukan gara-gara kebanyakan duit, tapi karena ketinggalan perahu 😦 Jadwal perahu menuju Gili Air itu ada 2 kloter. Jadwal pertama jam 09.30 WITA, jadwal kedua jam 15.00 WITA.

Gili Air sangat indah. Gw suka banget. Tempatnya lebih sepi dan pantainya jauh lebih bagus dari Gili Trawangan. Tapi harga penginapannya lebih mahal. Disini yang dijual ketenangannya, karena tidak terlalu bising. Penduduk Lombok terkenal ramah-ramah bukan main, mereka sering sekali menegur turis maupun orang dari Indonesia itu sendiri. Rata-rata dari mereka pun pandai berbicara Bahasa Inggris. Karna kesehariannya mereka selalu berkomunikasi dengan bule, jadi mayoritas penduduk fasih berbahasa Inggris.

Puas gosong-gosongan di Gili, besoknya kita langsung nyebrang menuju Bali menggunakan speed boat seharga 300ribu/orang, waktu tempuh Gili-Bali sekitar 1,5 jam dan transit 1x di Pulau Lombok. Kalau mau alternatif yang lebih murah bisa menggunakan kapal feri, tapi memakan waktu yang lebih lama, sekitar 4 jam. Semaput aja itu sih :p

Lombok sudah menjadi destinasi liburan yang digemari banyak traveler. Ngga hanya di Gili tapi juga beberapa pantai di Lombok yang tak kalah menariknya. Coba dan rasain deh “surga” yang ada disini, dijamin kepengen balik lagi.

Tunggu lanjutan cerita di Bali yah 🙂

Fadli Zon Library: Museum Versi Mini

Buat kalian apa yang terlintas kerja di perpustakaan? ngebosenin? monoton?atau mungkin ada yang bilang “memang ada yang bisa dikerjain di perpustakaan?”

Oke, gw kerja di perpustakaan. Dan gw setuju dengan pendapat orang-orang yang mengatakan hal demikian. Buat gw sangat boring. Tiap hari kalian akan berinteraksi sama yang namanya buku, buku dan buku. Makhluk tak bernyawa. Dari buku yang masih lurus sampai yang sudah keriting lecek. Dari yang masih mulus sampai yang sudah bolong-bolong dimakan waktu dan rayap. Dari yang super tipis sampai yang tebel banget. Dari yang warna putih sampai kecoklatan butek. Gw udah menikmati itu semua, daaaaaaaaaaaannnn KENYANG!

Sudah hampir 3 tahun lebih gw bekerja di Fadli Zon Library, sebuah perpustakaan yang juga art gallery di daerah Benhil, Jakarta Pusat. Awalnya gw hanya mengerjakan proyek perpustakaan yang targetnya 7000 buku dan saat itu sambilan kuliah. Lumayan lah namanya mahasiswa, nambah-nambah uang saku. Eh malah jadi keterusan sampai sekarang.

FZL sudah menjadi rumah kedua buat gw, selain memang tempatnya di desain cozy dan homey. Disini pun bisa sesuka hati. Begitupun dengan jam kerjanya, dateng ke kantor juga sesuka hati dan pulang sesuka hati, tanpa ada jam kerja yang mengikat. Yang penting target pekerjaan tercapai dalam waktu 1 bulan. Kantor mana coba yang bisa kaya gini?

Secara keseluruhan, FZL itu terdiri dari 3 lantai. Lantai bawah ruang kerja. Lantai 2 ruang kerja dan perpustakaan. Lantai 3 perpustakaan dan ruang diskusi. Sebenernya sih ada serunya kerja di perpustakaan? kalau kalian yang memang suka buku jadi kaya informasi, yang bisa didapatkan secara gratis. Buku itu jendela dunia, mewakili pengetahuan di dalamnya. Tentunya pengetahuan pun sedikit banyak jadi bertambah. Dari yang oon banget, jadi agak ngga oon. Dari yang agak ngga oon, jadi lumayan. Kerja disini juga jadi tau buku-buku mulai dari terbitan zaman dulu sampai sekarang, jadi tau nama-nama penulis/pengarang plus ketemu langsung orangnya. Jadi tau sejarah, kalian juga bisa sering ketemu sama orang terkenal disini dan masih banyak lagi. Buat yang ngga suka kerja dengan alur yang monoton, kerja di perpustakaan memang hal yang sangat-sangat membosankan.

Untuk perpustakaan pribadi, FZL sudah bisa dikatakan cukup lengkap. Kenapa? bisa dibayangkan mana ada perpustakaan pribadi koleksinya sampai puluhan ribu. Selama gw bekerja disini sudah sekitar 23.000 lebih buku dan majalah yang sudah gw olah. Dalam bentuk Bahasa Indonesia, Inggris juga Belanda dengan berbagai macam subjek, dan tentunya masih banyak buku lain yang mengantri untuk diolah. Sebenernya ada bahasa lain seperti Jerman, Cina, Rusia, Arab dan Jawa, tapi karena keterbatasan bahasa yang dimiliki dan ngga ada yang mengolah, buku-buku dengan bahasa tersebut dibiarkan begitu saja. Sayang banget ya?

Mayoritas koleksi buku di FZL seputar Sejarah, Sastra dan Politik Pemerintahan. Bidang-bidang yang atasan gw geluti. Tapi selain itu masih banyak juga kok subjek-subjek lainnya, seperti agama, seni, komunikasi, bahasa, teknologi, filsafat, jurnalistik dan lain-lain. Kalau mau liat koleksinya bisa mengunjungi web berikut ini: http://www.fadlizonlibrary.com/.

Salah satu kekurangan FZL adalah karena perpustakaan pribadi koleksinya tidak boleh dipinjam. Di FZL tidak ada barcode dan juga tidak menyediakan keanggotaan. Jadi, koleksi hanya boleh di fotokopi dan dibaca di tempat. Tapi tidak perlu khawatir, siapapun boleh mengunjungi perpustakaan ini, terbuka untuk umum. Buat yang mau menghibahkan bukunya kesini juga boleh banget, diterima dengan senang hati.

Beberapa pengunjung yang sudah kesini untuk meminjam buku antara lain, mulai dari penulis, peneliti, mahasiswa yang sedang membuat skripsi atau thesis, sampai politikus dan seniman juga ada. Bahkan kedubes luar negeri pun pernah datang berkunjung. Rata-rata pengunjungnya memang yang sedang penelitian atau membuat buku. Mereka mencari referensi kesini karena terkadang buku-buku yang mereka cari di toko buku sudah tidak terbit lagi. Di FZL memang menyediakan banyak buku keluaran lama yang sudah tidak dicetak lagi ataupun yang memang sudah sulit dicari. Itulah yang menjadi keunggulan perpustakaan ini.

Kekurangan lainnya, FZL belum memiliki e-book, mungkin ke depannya berencana akan membuat. Karena kalau setiap yang meminjam buku harus fotokopi boros kertas. E-book itu lebih praktis, hemat waktu dan biaya.

Atasan gw itu kolektor sejati. Tidak hanya buku atau majalah aja yang ada disini, beliau juga kolektor surat kabar lama, keris, lukisan, setrika pakaian dari bara, mata uang lama, foto-foto, bungkus rokok, arca, patung, fosil, piringan hitam, dan benda bersejarah lainnya. Kantor gw layaknya mini museum. Dari buku tertua yang namanya Rumphius disini juga ada. Eh FZL pernah dapet piagam penghargaan Museum Rekor Dunia loh.

Dari semua koleksi yang ada, ruangan di FZL terlalu sempit buat menampung seluruh koleksi yang bejibun. Sebagian buku-buku yang double sudah disimpan sih di Padang, nama tempatnya Roemah Boedaja Taufiq Ismail yang letaknya di Padang Panjang. Bisa mengunjungi website dibawah ini:

http://aieangekcottage.com/roemah-boedaja-fadli-zon-diresmikan.html.

Tempatnya semacam Fadli Zon Library juga, menyimpan sejumlah koleksi kuno dan bersejarah. Tapi khusus yang terkait dengan kebudayaan Minangkabau saja.

Baca buku itu memang banyak digemari, tidak hanya sekedar kegiatan tapi juga bisa dijadikan hobi. Selain murah meriah, membaca bisa dilakukan dimana aja. Apa kamu salah satu yang punya hobi itu?

Buat kamu-kamu yang suka baca, suka sejarah, suka budaya ataupun suka seni, main yuk ke FZL. Disini kamu bisa menikmati perpustakaan yang suasananya beda dengan di tempat lainnya 🙂

Alamat:
Jl. Danau Limboto C2/96, Jakarta 10210
No.Telepon:
(021) 5734382

Jam Buka: Senin-Jumat, 09.00-17.00 WIB
Sabtu (with appointment)