I Choose To Let It Go

Tahun lalu suami saya masih bekerja di Indonesia Bagian Timur, tepatnya di kota Tembagapura. Hutan yang disulap sedemikian rupa menjadi kota. Kami bertemu hanya 2 minggu saja, sisanya selama 6 minggu dia harus kembali ke Papua untuk bekerja. Begitu seterusnya selama kurang lebih 3 tahun pernikahan, kami hidup berjarak ratusan kilometer hanya mengandalkan komunikasi via telepon. Terkadang karena sinyal yang susah disana, saya tidak berkabar dengannya. Jangankan video call, voice call saja percakapan kami sering terputus. Hal buruk hubungan jarak jauh kami, emosi suami saya sering meledak-ledak tanpa alasan jelas dan mudah stress.


Suami saya berulangkali mengeluh, ingin keluar dari tempatnya bekerja. Walaupun bekerja di minyak, tambang ataupun gas adalah impian kebanyakan orang pada umumnya tapi buat suami saya tinggal disana seperti neraka dunia. Dia tidak bahagia. Dia ditempatkan di underground, tanpa cahaya matahari dan minim udara. Penuh resiko tertiban reruntuhan atau alat berat. Di luar tempat bekerja pun kurang lebih kurang mengenakan, matahari hanya bersinar 2 jam saja, sisanya kabut tebal. Udaranya bisa mencapai 10 derajat celcius. Kondisi jalanannya curam, berkendara hanya bisa max 30 km/jam, begitu katanya. Seperti yang kita ketahui, Papua termasuk pulau yang paling tertinggal, segalanya serba sulit. Bahan makanan mahal, tidak ada makanan yang enak, tempat hiburan tidak ada, padahal uang melimpah ruah. Mau kemana-mana pun serba jauh untuk ditempuh, perang suku sangat sering terjadi pula disana. Ditambah lagi banyak timbul gesekan antar sesama rekan kerjanya. Bagi suami saya hal-hal demikian sangatlah menyiksa. Jadi semakin menguatkan tekadnya untuk segera resign. Tapi berulangkali saya dan orangtuanya melarang karena satu dan lain hal.
Sampai suatu ketika di Desember 2015 ada kejadian yang buruk terjadi dengan suami saya, hal itu sangat merubah kehidupan kami. Saya hampir berderai air mata setiap hari. Ini adalah salah satu badai rumah tangga kami. Titik paling buruk kehidupan rumah tangga kami. Akhirnya oleh kantor suami saya diberi cuti panjang selama setahun untuk istirahat. Ya, kita bersama setiap hari sepanjang satu tahun.
Perlahan saya pun sadar, kapan hubungan jarak jauh ini berakhir. Sedangkan anak kami semakin lama mulai tumbuh besar. Dia membutuhkan sosok papanya. Dari awal lahir memang suami saya melewatkan momen-momen berharga dari tumbuh kembang Nabil, mulai dari pertama duduk, merangkak, makan, berjalan, berbicara dll. Bonding antara mereka sangatlah kurang. Nabil tidak dekat dengan papanya, sama sekali. Hal ini menimbulkan rasa khawatir bagi saya. Lantas materi yang dikumpulkan selama ini untuk apa, jika kami sebagai keluarga tidak bisa selalu berkumpul bersama? Akhirnya setelah melalui proses pemikiran yang panjang, saya mengikhlaskan suami saya untuk resign. Saya rela tidak membeli barang fancy, tidak keluar masuk restoran, tidak liburan setiap bulan, tidak jajan ini itu dan tidak tidak tidak yang lainnya. Saya berusaha rela jika hidup kami ternyata berbanding terbalik dengan sebelumnya. Saya rela melepaskan itu semua pergi, karena ada harapan lain yang ingin saya capai.
Bak gayung bersambut, awal 2017 terjadi kisruh di perusahaan suami saya. Sehingga membuat para pekerjanya sekitar 1000 orang terkena PHK. Dan suami saya adalah salah satunya. Sepertinya Allah menjawab doa-doa kami. Pas sekali momentumnya. Terhitung mulai Mei 2017 suami saya jobless. Menjadi bapak rumah tangga sepenuhnya (karena sampai saat ini belum mendapat pekerjaan).
Sementara saya memutuskan untuk bekerja freelance seminggu 2x untuk menambah pemasukan. Dan Nabil saya tinggal bersama papanya seharian selama 2 hari. Sekarang kami bisa bersama-sama setiap hari. Tidur bertiga, makan bertiga, jalan-jalan bertiga, bercanda bertiga. Momen langka yang dulu sulit sekali kami lakukan. Kami ingin membangun masa depan bersama, memulainya kembali dari awal. Melihat proses tumbuh kembang Nabil bersama, mendidik dan memberikannya ilmu yang kami punya bersama-sama. Mungkin finansial kami tidak akan berlimpah lagi, mungkin juga hanya setengah, sepertiga atau bahkan seperempat dari pendapatan suami saya dulu. Tapi ada hal lain yang patut kami syukuri, kami mendapat keutuhan dan waktu bersama keluarga, itu lebih penting. Uang bisa dicari, tapi tumbuh kembang anak kami tidak bisa diulang kembali. Hidup itu memilih, ada plus minus dari setiap keputusan yang diambil. Dan ini pilihan kami sekarang.
Semenjak tidak di Papua, hidup suami saya sekarang lebih ceria dan bahagia. Dulu jarang sekali beribadah sekarang jadi lebih rajin, sifat emosionalnya pun berkurang, mau mengalah dan tidak terlalu memaksakan kehendak. Dia pun perlahan turut membantu saya mengasuh Nabil. Banyak kebaikan yang datang pada suami saya karena resign dari pekerjaannya. Semoga Allah memberikan kesempatan dan membuka rezeki di tempat lain yang seluas-luasnya untuk keluarga kami.
I choose happiness!

Advertisements

Curhat Mama Nabil #Part1

Setiap ibu pasti mendambakan anaknya bisa makan dengan lahap tanpa pilih-pilih makanan, kenyataannya harapan itu cuma bisa jadi angan-angan buat gw. 2 tahun gw melewati masa-masa anak susah makan, bukan GTM biasa anak pada umumnya, anak gw emang tergolong ngga doyan sama yang namanya makan. Mau itu makanan berat, atau cemilan sekalipun ngga ada yang dia suka. Sepertinya mengunyah adalah beban paling berat dalam hidupnya. Kalau ditanya apa sih makanan kesukaan dia? Gw cuma jawab, buah, es krim dan coklat. Udah. Beberapa orang ada yang bilang, “nanti kalau udah ngga ASI juga doyan makan” atau “kalau udah masuk sekolah juga jadi laper dan mau makan” nyatanya keduanya belum berlaku. Setidaknya sampai saat ini.
Setiap hari pasti ada aja “perang” untuk masalah makan, makan sehari 3x pula. Kebayang kan 1 tahun ada 365 hari, 2 tahun berarti ada 730 hari, dikali makan 3x sehari, artinya ada 2.190 “perang” yang udah gw lewati selama ini. Lelahnya luar biasa, capenya ngga bisa diungkapkan, keselnya udah tahap maksimal. Kalau disuruh memilih, lebih baik gw melewati sakit ketika persalinan yang cuma beberapa jam ketimbang harus “sakit” liat anak ngga mau makan bertahun-tahun. Beneraaaan…


Sedih banget rasanya, padahal harapan gw adalah memberikan suasana makan yang menyenangkan dan Nabil bisa belajar makan sendiri di usianya yang sekarang 3 tahun. Nyatanya gw harus membuang jauh-jauh harapan itu.
Ngga pengen membandingkan kondisi rumput tetangga yang lebih hijau, tapi jujur aja sebagai orangtua sedih rasanya ngeliat anak kurus, pipinya tirus, tulang2nya  menonjol sedangkan anak lain begitu lahapnya bisa makan makanan apapun. Nabil sering banget kesenggol temannya yang lebih besar lalu jatuh, atau sulit untuk melakukan kegiatan motorik kasar seperti memanjat atau bergelantungan karena fisiknya yang kecil. Bisa mencapai 12 kg di usianya yang 3 tahun adalah sebuah perjuangan yang berat. Segala usaha  gw lakukan sampai merogoh kocek yang ngga sedikit demi anak mau makan, gw melakukan apapun semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik buat Nabil. Kalaupun ngga bikin nafsu makan, paling ngga bisa menaikan berat badannya lah.  Cuma itu yang ada dipikiran gw. Tapi sepertinya sumbu sabar gw harus diperpanjang.
Gw mungkin dikategorikan ibu yang kurang baik, ngga jarang gw bentak-bentak, berteriak atau marahin Nabil kalau makan. Karena seringkali dia melepeh makanannya. Atau pernah gw kurung dia di kamar sampe nangis kejer. Gw pun suka pukul tangannya karena suka lempar-lempar makanan. Seringkali bilang mau makan nyatanya ngga sesuap pun masuk ke mulutnya. Intinya setiap hari dia cuma ngerjain gw doang, bikin gw kecapean sampai gw menyerah untuk nyuapin lagi. Entah udah sebanyak apa memori buruk yang dia serap dari acara makan. Sedih ya? Pernah gw lakukan cara halus yang dokter saranin, kalau ngga mau makan tunggu 2 jam lagi. Kalau ngga mau juga tunggu 2 jam kemudian, begitu seterusnya. Nyatanya anak gw tetep keras kepala, dia bisa loh ngga makan pagi, siang, ataupun malam kalau gw membiarkan. Cuma efeknya jadi rewel dan uring-uringan. Tidurnya pun ngga nyenyak, kebangun terus minta susu UHT biasanya. Hampir setiap hari gw berderai air mata, pengen jedot-jedotin kepala, pengen nonjok apapun karena emosi gw meletup-letup ngadepin Nabil. Sambil meratapi kenapa ya anak gw ngga mau nerima makanan apapun, kenapa? kenapa? dan kenapa? Selalu jadi pertanyaan gw setiap hari.
Bingung harus mengusahakan apalagi. Cara halus ataupun pakai kekerasan sama aja hasilnya. Emang sih kalau diancam dia agak sedikit mau makan. Tapi acara makannya kan jadi ngga hepi :(. Keinginan gw untuk berkreasi menu makanan udah hilang entah kemana. Teori makanan yang ideal pun buyar. Bisa makan karbo plus lauk aja udah bersyukur sangat. Sekarang senjata gw cuma 2, gw selalu sedia Mollers dan Sambucol di rumah. Mollers khusus untuk booster bb nya dia, dan Sambucol sebagai vitamin untuk daya tahan tubuhnya biar ngga mudah sakit. Karena Nabil termasuk kategori kurang gizi dia jadi lebih mudah kena sakit, flu atau batuk gampang banget tertular. Udah kebayang kan dalam keadaan sehat aja makannya susah, gimana kalau sakit? butuh effort yang luar biasa. Harga Mollers dan Sambucol pun bikin pedih gw, mahalnya ngga ketulungan. Tapi apa mau dikata, ngga ada pilihan yang lebih baik.
Mungkin Allah sedang menguji gw supaya mampu mengelola emosi, mengontrol diri dan menjadi ibu yang lebih baik lagi untuk ke depannya.

Maafin mama ya Bil, seringkali mama berubah jadi monster dan mungkin itu menakutkan buat Nabil. Semoga harapan dan doa mama biar Nabil mau makan lahap segera terkabul. Aamiin.
Semangat juga buat ibu-ibu di luar sana yang melewati hari-harinya sama seperti gw, tetep semangat dan jangan putus asa ya. Badai (entah kapan) pasti berlalu kok. Semoga…