(Travel Diaries – 14) Helooo Padang

Padang menjadi pilihan gw buat liburan long weekend kali ini. Bisa dibilang traveling yang agak penuh drama sih sebenernya. Diawali dari rute ke bandara yang macetnya luar biasa, karena sesuai dengan ekspektasi gw long weekend banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk berlibur ke luar kota. Tentunya hal ini berdampak pada check-in di bandara yang telat (untungnya naek Lion Air daaaaaaaaaannn delay!subhanallah emang nih maskapai)

Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam saat gw mendarat di Bandara Udara Minangkabau. Bandaranya cukup bagus dan bersih. Perdana menginjakkan kaki di ranah Minang, kesan pertama yang bikin gw shock adalah taksinya. Taksi di sana tidak memakai argo, jadi untuk pembayaran pinter-pinternya kita nego aja. Tetapi untuk taksi bandara sudah ada tarifnya masing-masing. Contohnya aja gw yang pada saat itu tujuannya ke kota Padang, harus merogoh kocek Rp 109.000 dengan jarak tempuh 30 menit. Cukup mahal ya? kesan kedua, taksi di sana kebanyakan tidak layak pakai. Maintenance-nya kurang, AC alakadarnya, ditambah lagi aroma tidak sedap pada kursinya (yang entah bekas apa). Alamaaaakkk…

IMG_3208

Gw memilih Hotel Axana untuk tempat bermalam. Ratenya Rp 748.000 per malam. Entah kenapa gw malah dapet harga Rp 550.000 saat itu. Dulu hotel ini namanya Hotel Ambacang, namun setelah gempa yang menghancurkan beberapa bangunan di Kota Padang, akhirnya hotel ini dibangun kembali dan berganti nama menjadi Hotel Axana. Konon di hotel ini banyak memakan korban. Beruntungnya pas gw menginap disitu ngga ada kejadian-kejadian aneh.

Besok paginya gw bertolak ke daerah Padang Panjang. Tujuan gw adalah mengunjungi Rumah Budaya Fadli Zon dan menginap di Aie Angek Cottage (karena kebetulan punya mantan bos gw jadi gratis, horeee!!!). Untuk ke daerah tersebut bisa menggunakan Travel Tranex Mandiri, terminalnya berdekatan dengan Ion Hotel (dimana itu Ion Hotel?cari aja di google map :p). Dengan perjalanan sekitar 3 jam cukup membayar Rp 16.000, murah banget ya?

DSC_0354

IMG_0167

DSC_0038

Aie Angek Cottage ini patokannya berdekatan dengan RM Sambalado. Diapit oleh dua gunung, yaitu Merapi dan Singgalang membuat penginapan ini terkesan eksklusif. Tidak hanya sebagai tempat penginapan saja, cottage ini sarat dengan nuansa budaya. Hal ini terlihat dari benda-benda antik yang dipajang. Selain cottage, persis di depannya ada Rumah Puisi Taufiq Ismail, tempat dimana orang bisa mendalami sastra dan budaya.

DSC_0490

IMG_3072

Berbicara mengenai fasilitas, cottage ini bisa disetarakan dengan hotel berbintang 4. Sangat bersih dan nyaman, menyuguhkan nuansa alam yang menyegarkan. Aie Angek juga berfungsi sebagai rumah budaya. Ada berbagai koleksi buku kuno, keris, senjata purbakala, kain motif batik dan songket, wayang, lukisan dan beragam produk kebudayaan lainnya yang disajikan di area cottage ini. Selain sebagai penginapan, Aie Angek Cottage bisa juga dijadikan sarana pariwisata.

DSC_0072

DSC_0020i

IMG_3037

Belum lengkap rasanya jika ke Padang Panjang tanpa ke Bukittinggi. Kurang lebih 1/2 jam untuk menuju kesana dengan kendaraan bermotor. Jangan lupa menggunakan pakaian hangat karena sepanjang jalan Padang Panjang sangat dingin sekali, layaknya Puncak Bogor. Gw saltum abis!

Apalagi yang ingin dikunjungi disana selain Jam Gadangnya yang terkenal, landmark kota Bukittinggi. Simbol khas Sumatra Barat ini memiliki cerita sejarah tersendiri. Jam Gadang ini terletak di pusat kota, berdampingan dengan sebuah mall membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi. Orang bebas duduk-duduk di pelataran atau taman sekitarnya.

Sehari di Padang Panjang, besoknya gw langsung menuju Painan. Tujuannya adalah ke Pantai Cingkuak. Dari Padang Panjang sekitar 2 jam. Jalanannya lumayan berkelok-kelok, namun kita disuguhkan dengan pemandangan pegunungan yang indah dan pepohonan yang hijau. Kita juga akan melewati Lembah Anai, air terjun yang terletak di pinggir jalan dan menjadi salah satu ikon Sumatera Barat selain jam gadangnya. Tempat ini cukup ramai. Airnya pun jernih, tapi bukan tempat wisata yang “wah” buat gw.

Cukup dengan membayar Rp. 15.000 kita sudah bisa menyebrang menggunakan perahu ke Pantai Cingkuak. Yang sangat disayangkan adalah nampaknya wisata pantai di Sumbar ini kurang diminati warganya. Mereka lebih menyukai wisata pegunungan. Selama gw disana terlihat daerah pegunungan lebih ramai dikunjungi ketimbang pantainya. Di Pantai Cingkuak kegiatan yang dilakukan hanya bisa berenang atau banana boat. Tidak bisa snorkeling terlebih lagi diving. Tempat penyewaan alat saja tidak ada. Agak mengecewakan sih sudah datang jauh-jauh. Hal mengecewakan lainnya adalah orang yang datang ke pantai tersebut kurang memperhatikan kebersihan. Banyak yang membawa nasi bungkus dan botol minuman kemudian meninggalkan begitu saja sampahnya di pinggir pantai. Akhirnya gw pun hanya main air saja di pinggir pantai dan memilih kembali ke kota Padang untuk berwisata kuliner demi mengobati kekecewaan.

IMG_3176

IMG_3181

Sebenarnya pariwisata di Padang cukup banyak yang bisa dijelajah. Hanya saja disini yang lebih ditonjolkan adalah wisata pegunungan, sedangkan wisata pantainya kurang dilestarikan keberadaannya. Padahal selama di perjalanan, cukup banyak gw menemukan pantai tapi keadaannya tidak terawat. Gw berharap kedepannya pemerintah Padang lebih memperhatikan semua pariwisata yang ada disana.

Happy traveling!