Review Vitamin: Sambucol Cold & Flu

Semenjak sapih Nabil jadi gampang banget kena flu batuk. Lagi sehat aja makannya susah minta ampun, bisa dibayangkan pas sakit double effort banget untuk ngasih dia makan.

Pernah suatu hari Nabil demam dan keliatannya mau batuk juga, gw kembali lemes dan pastinya akan kerja keras banget untuk ngasih makan. Udah dikasih Tempra berkali-kali panasnya tetep naik turun. Tiba-tiba keinget info yang pernah di sharing sama selebgram @elizabeth.zenifer tentang imun booster yang namanya Sambucol. Vitamin ini import, tidak bisa dibeli di apotek. Gw cobalah beli di ig @naturesmarket.id, amazing baru sekali minum besoknya demam Nabil langsung turun, flu batuknya pun ngga jadi dateng. Hebat ya bisa gitu, terharu banget *cetek*. Alhamdulillah banget rasanya enak dan Nabil suka, manis agak keasaman semacam buah berry, jadi Nabil minumnya pun dengan senang hati.

Oh iya Sambucol ini bukan obat ya, dia cuma vitamin yang fungsinya untuk memperpendek durasi sakit atau mempercepat penyembuhan. Jadi ngga bisa untuk mematikan virus/bakteri. Yang cold dan flu gw ini, diberikan hanya untuk usia 2 tahun keatas, takarannya 7,5ml/hari. Tapi ngga diminum setiap hari juga ya, ntar malah jadi kebal pas penyakit dateng.

 Karena udah kenal Sambucol, Nabil jadi jarang banget ke dokter atau mengkonsumsi obat-obat kimia. Lumayan gw jadi irit biaya, walau Sambucol harganya cukup mahal sekitar 200an lebih, tapi better ketimbang gw harus bayar RS plus antri dokternya kan?

Advertisements

Review Make Up: Les Beiges Channel All in One Healthy Glow Fluid

Dari dulu gw kepengen banget nyobain foundation Channel, karena menurut review Channel tuh ngga pernah mengecewakan hasilnya.

Setelah kebayang-bayang melulu dan tidur pun ngga tenang (tsaaah…) akhirnya gw cobain untuk pertama kalinya Les Beiges Channel All In One Healthy Glow Fluid. Semacam cc cream, untuk base make up. Ada yang bilang juga sebagai primer foundation. Harga? Mehong lah pastinya :(. Selain ysl liberator serum, cream ini bakal jadi salah satu favorit gw. Teksturnya soft, mudah di blend dan diaplikasiin ke kulit. Baunya pun enak kaya bunga-bungaan. Gampang menyerap dan ngga lengket (penting nih!). Gw ngga betah banget kalo berasa lengket macem pake cream pagi/malem gitu, muka jadi berasa berat oh em ji. Cocok untuk sehari-hari karena ringan banget kaya ngga pake base sama sekali.



Cream ini untuk semua jenis kulit, walau tipe kulit gw kering kerontang hasil akhirnya tuh glowy natural tapi ngga bikin berminyak, kalaupun keringetan hasilnya dewy look gitu. Staying powernya oke banget, walau habis cuci muka/wudhu make up tetep menempel ngga jadi cakey. Plusnya lagi, ada sunscreen protection spf 15 dan moisturizernya. Cucok meong kan jadi ngga perlu double cream?

Repurchase? Definetely yes! Jatuh cinta banget..

I Choose To Let It Go

Tahun lalu suami saya masih bekerja di Indonesia Bagian Timur, tepatnya di kota Tembagapura. Hutan yang disulap sedemikian rupa menjadi kota. Kami bertemu hanya 2 minggu saja, sisanya selama 6 minggu dia harus kembali ke Papua untuk bekerja. Begitu seterusnya selama kurang lebih 3 tahun pernikahan, kami hidup berjarak ratusan kilometer hanya mengandalkan komunikasi via telepon. Terkadang karena sinyal yang susah disana, saya tidak berkabar dengannya. Jangankan video call, voice call saja percakapan kami sering terputus. Hal buruk hubungan jarak jauh kami, emosi suami saya sering meledak-ledak tanpa alasan jelas dan mudah stress.


Suami saya berulangkali mengeluh, ingin keluar dari tempatnya bekerja. Walaupun bekerja di minyak, tambang ataupun gas adalah impian kebanyakan orang pada umumnya tapi buat suami saya tinggal disana seperti neraka dunia. Dia tidak bahagia. Dia ditempatkan di underground, tanpa cahaya matahari dan minim udara. Penuh resiko tertiban reruntuhan atau alat berat. Di luar tempat bekerja pun kurang lebih kurang mengenakan, matahari hanya bersinar 2 jam saja, sisanya kabut tebal. Udaranya bisa mencapai 10 derajat celcius. Kondisi jalanannya curam, berkendara hanya bisa max 30 km/jam, begitu katanya. Seperti yang kita ketahui, Papua termasuk pulau yang paling tertinggal, segalanya serba sulit. Bahan makanan mahal, tidak ada makanan yang enak, tempat hiburan tidak ada, padahal uang melimpah ruah. Mau kemana-mana pun serba jauh untuk ditempuh, perang suku sangat sering terjadi pula disana. Ditambah lagi banyak timbul gesekan antar sesama rekan kerjanya. Bagi suami saya hal-hal demikian sangatlah menyiksa. Jadi semakin menguatkan tekadnya untuk segera resign. Tapi berulangkali saya dan orangtuanya melarang karena satu dan lain hal.
Sampai suatu ketika di Desember 2015 ada kejadian yang buruk terjadi dengan suami saya, hal itu sangat merubah kehidupan kami. Saya hampir berderai air mata setiap hari. Ini adalah salah satu badai rumah tangga kami. Titik paling buruk kehidupan rumah tangga kami. Akhirnya oleh kantor suami saya diberi cuti panjang selama setahun untuk istirahat. Ya, kita bersama setiap hari sepanjang satu tahun.
Perlahan saya pun sadar, kapan hubungan jarak jauh ini berakhir. Sedangkan anak kami semakin lama mulai tumbuh besar. Dia membutuhkan sosok papanya. Dari awal lahir memang suami saya melewatkan momen-momen berharga dari tumbuh kembang Nabil, mulai dari pertama duduk, merangkak, makan, berjalan, berbicara dll. Bonding antara mereka sangatlah kurang. Nabil tidak dekat dengan papanya, sama sekali. Hal ini menimbulkan rasa khawatir bagi saya. Lantas materi yang dikumpulkan selama ini untuk apa, jika kami sebagai keluarga tidak bisa selalu berkumpul bersama? Akhirnya setelah melalui proses pemikiran yang panjang, saya mengikhlaskan suami saya untuk resign. Saya rela tidak membeli barang fancy, tidak keluar masuk restoran, tidak liburan setiap bulan, tidak jajan ini itu dan tidak tidak tidak yang lainnya. Saya berusaha rela jika hidup kami ternyata berbanding terbalik dengan sebelumnya. Saya rela melepaskan itu semua pergi, karena ada harapan lain yang ingin saya capai.
Bak gayung bersambut, awal 2017 terjadi kisruh di perusahaan suami saya. Sehingga membuat para pekerjanya sekitar 1000 orang terkena PHK. Dan suami saya adalah salah satunya. Sepertinya Allah menjawab doa-doa kami. Pas sekali momentumnya. Terhitung mulai Mei 2017 suami saya jobless. Menjadi bapak rumah tangga sepenuhnya (karena sampai saat ini belum mendapat pekerjaan).
Sementara saya memutuskan untuk bekerja freelance seminggu 2x untuk menambah pemasukan. Dan Nabil saya tinggal bersama papanya seharian selama 2 hari. Sekarang kami bisa bersama-sama setiap hari. Tidur bertiga, makan bertiga, jalan-jalan bertiga, bercanda bertiga. Momen langka yang dulu sulit sekali kami lakukan. Kami ingin membangun masa depan bersama, memulainya kembali dari awal. Melihat proses tumbuh kembang Nabil bersama, mendidik dan memberikannya ilmu yang kami punya bersama-sama. Mungkin finansial kami tidak akan berlimpah lagi, mungkin juga hanya setengah, sepertiga atau bahkan seperempat dari pendapatan suami saya dulu. Tapi ada hal lain yang patut kami syukuri, kami mendapat keutuhan dan waktu bersama keluarga, itu lebih penting. Uang bisa dicari, tapi tumbuh kembang anak kami tidak bisa diulang kembali. Hidup itu memilih, ada plus minus dari setiap keputusan yang diambil. Dan ini pilihan kami sekarang.
Semenjak tidak di Papua, hidup suami saya sekarang lebih ceria dan bahagia. Dulu jarang sekali beribadah sekarang jadi lebih rajin, sifat emosionalnya pun berkurang, mau mengalah dan tidak terlalu memaksakan kehendak. Dia pun perlahan turut membantu saya mengasuh Nabil. Banyak kebaikan yang datang pada suami saya karena resign dari pekerjaannya. Semoga Allah memberikan kesempatan dan membuka rezeki di tempat lain yang seluas-luasnya untuk keluarga kami.
I choose to let it go of the pain, hurt, sadness and negativity.

Today i choose happiness!

Curhat Mama Nabil #Part1

Setiap ibu pasti mendambakan anaknya bisa makan dengan lahap tanpa pilih-pilih makanan, kenyataannya harapan itu cuma bisa jadi angan-angan buat gw. 2 tahun gw melewati masa-masa anak susah makan, bukan GTM biasa anak pada umumnya, anak gw emang tergolong ngga doyan sama yang namanya makan. Mau itu makanan berat, atau cemilan sekalipun ngga ada yang dia suka. Sepertinya mengunyah adalah beban paling berat dalam hidupnya. Kalau ditanya apa sih makanan kesukaan dia? Gw cuma jawab, buah, es krim dan coklat. Udah. Beberapa orang ada yang bilang, “nanti kalau udah ngga ASI juga doyan makan” atau “kalau udah masuk sekolah juga jadi laper dan mau makan” nyatanya keduanya belum berlaku. Setidaknya sampai saat ini.
Setiap hari pasti ada aja “perang” untuk masalah makan, makan sehari 3x pula. Kebayang kan 1 tahun ada 365 hari, 2 tahun berarti ada 730 hari, dikali makan 3x sehari, artinya ada 2.190 “perang” yang udah gw lewati selama ini. Lelahnya luar biasa, capenya ngga bisa diungkapkan, keselnya udah tahap maksimal. Kalau disuruh memilih, lebih baik gw melewati sakit ketika persalinan yang cuma beberapa jam ketimbang harus “sakit” liat anak ngga mau makan bertahun-tahun. Beneraaaan…


Sedih banget rasanya, padahal harapan gw adalah memberikan suasana makan yang menyenangkan dan Nabil bisa belajar makan sendiri di usianya yang sekarang 3 tahun. Nyatanya gw harus membuang jauh-jauh harapan itu.
Ngga pengen membandingkan kondisi rumput tetangga yang lebih hijau, tapi jujur aja sebagai orangtua sedih rasanya ngeliat anak kurus, pipinya tirus, tulang2nya  menonjol sedangkan anak lain begitu lahapnya bisa makan makanan apapun. Nabil sering banget kesenggol temannya yang lebih besar lalu jatuh, atau sulit untuk melakukan kegiatan motorik kasar seperti memanjat atau bergelantungan karena fisiknya yang kecil. Bisa mencapai 12 kg di usianya yang 3 tahun adalah sebuah perjuangan yang berat. Segala usaha  gw lakukan sampai merogoh kocek yang ngga sedikit demi anak mau makan, gw melakukan apapun semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik buat Nabil. Kalaupun ngga bikin nafsu makan, paling ngga bisa menaikan berat badannya lah.  Cuma itu yang ada dipikiran gw. Tapi sepertinya sumbu sabar gw harus diperpanjang.
Gw mungkin dikategorikan ibu yang kurang baik, ngga jarang gw bentak-bentak, berteriak atau marahin Nabil kalau makan. Karena seringkali dia melepeh makanannya. Atau pernah gw kurung dia di kamar sampe nangis kejer. Gw pun suka pukul tangannya karena suka lempar-lempar makanan. Seringkali bilang mau makan nyatanya ngga sesuap pun masuk ke mulutnya. Intinya setiap hari dia cuma ngerjain gw doang, bikin gw kecapean sampai gw menyerah untuk nyuapin lagi. Entah udah sebanyak apa memori buruk yang dia serap dari acara makan. Sedih ya? Pernah gw lakukan cara halus yang dokter saranin, kalau ngga mau makan tunggu 2 jam lagi. Kalau ngga mau juga tunggu 2 jam kemudian, begitu seterusnya. Nyatanya anak gw tetep keras kepala, dia bisa loh ngga makan pagi, siang, ataupun malam kalau gw membiarkan. Cuma efeknya jadi rewel dan uring-uringan. Tidurnya pun ngga nyenyak, kebangun terus minta susu UHT biasanya. Hampir setiap hari gw berderai air mata, pengen jedot-jedotin kepala, pengen nonjok apapun karena emosi gw meletup-letup ngadepin Nabil. Sambil meratapi kenapa ya anak gw ngga mau nerima makanan apapun, kenapa? kenapa? dan kenapa? Selalu jadi pertanyaan gw setiap hari.
Bingung harus mengusahakan apalagi. Cara halus ataupun pakai kekerasan sama aja hasilnya. Emang sih kalau diancam dia agak sedikit mau makan. Tapi acara makannya kan jadi ngga hepi :(. Keinginan gw untuk berkreasi menu makanan udah hilang entah kemana. Teori makanan yang ideal pun buyar. Bisa makan karbo plus lauk aja udah bersyukur sangat. Sekarang senjata gw cuma 2, gw selalu sedia Mollers dan Sambucol di rumah. Mollers khusus untuk booster bb nya dia, dan Sambucol sebagai vitamin untuk daya tahan tubuhnya biar ngga mudah sakit. Karena Nabil termasuk kategori kurang gizi dia jadi lebih mudah kena sakit, flu atau batuk gampang banget tertular. Udah kebayang kan dalam keadaan sehat aja makannya susah, gimana kalau sakit? butuh effort yang luar biasa. Harga Mollers dan Sambucol pun bikin pedih gw, mahalnya ngga ketulungan. Tapi apa mau dikata, ngga ada pilihan yang lebih baik.
Mungkin Allah sedang menguji gw supaya mampu mengelola emosi, mengontrol diri dan menjadi ibu yang lebih baik lagi untuk ke depannya.

Maafin mama ya Bil, seringkali mama berubah jadi monster dan mungkin itu menakutkan buat Nabil. Semoga harapan dan doa mama biar Nabil mau makan lahap segera terkabul. Aamiin.
Semangat juga buat ibu-ibu di luar sana yang melewati hari-harinya sama seperti gw, tetep semangat dan jangan putus asa ya. Badai (entah kapan) pasti berlalu kok. Semoga…

Alasan Sekolah Usia Dini

Nabil akhirnya gw putuskan untuk masuk PG di umur 3 tahun. Pastinya ada beberapa orang yang komentar, “kok masih kecil udah di sekolahin, ntar lama2 bosen dia”, “PG kan cuma main aja, di rumah juga bisa kan?”, “kasian banget masih kecil udah sekolah, ntar kecapean loh” dsb dsb dsb. Apa sih sebenernya yang memutuskan gw untuk nyekolahin Nabil di umur segitu? Ada tujuannya tentu.
Pertama, seluruh dunia kan udah tau makan Nabil susahnya minta ampun, anak gw sama dokter dibilang kurang gizi, udah kurus pendek lagi (jahat amat dr. Damayanti huhu..). Harapan gw dengan dia masuk sekolah, dia punya kegiatan yang bikin dia cape terus jadi kelaperan. Mau ngga mau kan jadi minta makan. Dan Nabil itu lagi masa-masa meniru, gw pengen dia liat temen-temennya yang makan bekal tanpa disuapi terus jadi niru mau melakukan itu juga. Terbukti pas trial kemaren gw bawain bekal pisang goreng keju ludes dia abisin. Semoga seterusnya bisa begitu.
Kedua, Nabil itu sangat susah bangun pagi. Wajar aja tidurnya antara jam 9-11 malem. Alhasil baru bangun jam 7 atau ngga jam 8 pagi. Tidur siang pun jadi molor bisa jam 3 atau jam 4, bangunnya baru maghrib atau bahkan bablas sampe besoknya. Jadi sering ngga makan malem. Hadeuuuh gimana ntar sekolah TK atau SD coba? Hancur berantakan banget jam tidur dan pola makannya.

Niat gw sih ingin memperbaiki manajemen waktunya. Ya salah satunya dengan sekolah. Otomatis jam 6 paling ngga Nabil harus udah bangun, karena jam sekolahnya dimulai jam 8. Masuk PG adalah tujuan gw melatih Nabil bangun pagi, supaya meminimalisir drama untuk ke depannya. Jadi pas masuk TK ngga ujug-ujug mesti bangun pagi, maksudnya sih biar ngga kaget aja.

Awal-awal pasti kerja keras banget untuk ngajak dia bangun pagi, tapi gw menjelaskan ke Nabil kalo ada hal yang dituju dari dia bersekolah, ketemu temen-temennya, guru-guru, bermain, pokoknya seneng-seneng di sekolah.
Jadi tujuan gw nyekolahin Nabil bukan karena pengen dia pinter, pengen lebih unggul dibanding anak lainnya apalagi buat sosialisasi. Ngga sama sekali! Gw yakin tiap anak berkembang dengan sendirinya, dan punya kepintaran masing-masing sesuai dengan waktunya. Cuma masalah susah makan dan bangun pagi udah jadi momok banget dalam hidup gw. Gw merasa hopeless mengatasi dua masalah itu. Jadi sekolah di usia dini menjadi jalan keluarnya. Pun kalo Nabil ngga punya masalah itu, niat gw pengennyaa langsung TK aja, ngga perlu ikutan PG segala. Mahal buuuk…


Review Sekolah: Survei PG di Bogor (Part 2)

Kembali gw mau share mengenai sekolah PG buat Nabil. Sekarang gw mau infoin sekolah agak di daerah Bogor Selatan dan sekitarnya ya. Sejak menetap di daerah selatan gw jadi semakin bingung mau masukin anak gw di sekolah mana. Nabil udah mau 3 tahun tapi gw belum juga daftarin Nabil sekolah karena belum ada yang cocok di hati. Buat gw daerah selatan itu minim pilihan, maklum lah gw tinggal di daerah perbatasan kota – kabupaten. Ada High Scope yang deket banget dari rumah, tapi harganya bikin sesek napas. Jadi gw mencari alternatif lain yang lebih masuk budget gw.

Ini listnya yang udah gw datengin:

1. Pertiwi

Tempatnya Jl. Raya Wangun, Ciawi. Strategis buat gw tempatnya, mudah dijangkau angkutan umum dan yang penting deket dari rumah. Anak ngga cape di jalan. Apalagi anak gw tipe yang tidur malem dan bangun siang, kebayang dong kalo bangun pagi buat sekolah kayak apa. Kalo ditambah lagi perjalanan yang cukup jauh, double drama banget kan?

Pertiwi sekolahnya terdiri dari 2 kelas, tiap kelas ada 10 orang anak dan didampingi 2 guru. Jam masuknya: 07.30-10.00 setiap Senin, Rabu dan Jum’at atau Selasa, Kamis, Jum’at. Jadi setiap Jum’at 2 kelas dijadikan satu.

Fasilitasnya: alat bermain indoor outdoor (sedikit sih gw liat), ruang perpustakaan, ruang audio visual (1bln sekali ada acara nonton bareng).

Perincian biaya:

– Uang pangkal 1.050.000 (bisa dicicil)

– Uang seragam + alat tulis + buku 1.250.000

– SPP + kegiatan + Makan Bersama 250.000

Total biaya: 2.550.000

Murah yah? Tapi ngga tau kenapa gw kok kurang sreg banget sama sekolahnya, pas gw survei sekitar jam11 suasananya rameeeeee dan bising banget ampun deh, ngga nyaman aja buat gw menempatkan Nabil disitu. Belum lagi ruang kelasnya untuk PG kecil, dan disekelilingnya ada ruang anak TK. Jadi terkesan padet dan sumpek banget. Lagipula pas gw bawa Nabil kesana, dia terlihat ngga tertarik dan ngga mau turun. Dan yang paling gw ngga suka di depan sekolah banyak jajanan mamang2 yang ngga sehat itu loh (tau kan macem apa?). Secara anak gw makannya super susah banget, gw ngga rela kalo dia jajan sembarangan. Gw masih menimbang-nimbang untuk nyekolahin Nabil disini. Tapi mengingat jarak tempuhnya yang deket, dan ongkosnya cuma 2ribu perak naek gojek duuuhh bikin galau kan..

 

2. Sekolah Islam Ibnu Hajar (SIHA)

Letaknya di samping Mesjid Raya. Buat gw letaknya juga cukup strategis, masih bisa dijangkau dengan angkutan umum. Kondisi sekolahnya buat gw nyaman dan tenang. Cuma agak PR harus naik dan turun tangga karena letak sekolahnya ada di bawah.

Hanya ada 1 kelas, terdiri dari 10 orang anak. Masuknya setiap hari, mulai jam 07.30-11.00. Ini sih yang agak berat buat gw nyekolahin Nabil disini, harus anter sekolah tiap hari, ini kan cuma PG doang :(. Tapi kuota untuk tahun ini udah penuh, alhasil harus waiting list untuk tahun depannya, yaaaahh…emang ngga jodoh ya.

Fasilitas: Ruang kelasnya bersih, full ac, tapi ngga terlalu besar untuk yang kelas PG. Keseluruhan sekolahnya cukup luas, enak buat Nabil lari-lari. Ada semacam saung2 gitu juga. Ruang perpustakaannya luas. Alat bermain indoor maupun outdoornya sedikit.

Perincian biaya:

– Pendaftaran 350.000

– Investasi Pendidikan 2.250.000

– Program pembelajaran (1thn) 1.685.000

– Asuransi (premi 1thn) 50.000

– Seragam 550.000

– SPP 275.000

– Open House 100.000

Total biaya: 5.260.000

 

3. Labschool IPB – ISFA

Lokasinya di Jl. Cikabuyutan, depan Fave Hotel baranangsiang samping Botani Square. Sekolah ini merupakan hasil kerjasama IPB dan ISFA (Indonesia Singapore Friendship Association). Cukup terjangkau juga oleh angkutan umum, cuma nambah jalan sedikit tapi kalo dari rumah bisa menghabiskan waktu sekitar setengah jam (lama ngga sih?). Kondisi sekolahnya bersih dan tenang. Tersedia tempat parkir dan pos satpam juga.

Hanya ada 1 kelas, dengan kuota 12 orang anak dan 2 guru pendamping. Masuknya 3x seminggu, setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at. Kegiatan berlangsung dari jam 08.00-11.00. Fasilitasnya ruang kelas yang nyaman, cukup besar, dan menggunakan ac. Sirkulasi udaranya oke. Ada ruang perpustakaan, dapur, ruang makan dan toilet yang bersih. Playground indoor dan outdoornya pun cukup banyak ketimbang Pertiwi/SIHA.

Untuk daftar biayanya yang bikin ngga sreg nih hehe, karena harganya cukup mahal buat gw. Sedangkan budget gw buat sekolah toddler sekitar 5-6jutaan aja.

Berikut perinciannya:

– Uang Pendaftaran 250.000

– Uang Program 5.000.000

– Iuran Tahunan 2.500.000

– Iuran Bulanan 650.000

Total biaya: 8.400.000

Pengen nangis ngga sih, playgroup aja biayanya udah segitu mahalnya gimana ke jenjang selanjutnya? Masih 50:50 juga milih ISFA. Dari 2 sekolah diatas yang gw review, keseluruhan sih paling cocok memang dengan sekolah ini, cuma biaya aja yang jadi pertimbangannya.

Nanti disambung lagi ya reviewnya, semoga cepet dapet yang sreg deh di hati ^^

Review Vitamin: Minyak Ikan, Mollers Tran

Kayanya seluruh dunia udah tau ya Nabil susah makan, karena itulah gw selalu cari cara kira-kira apa yg bikin bb Nabil bisa naik, paling ngga jadi nafsu makan lah. Ibu-ibu yg punya masalah serupa pasti tau hopeless-nya gw kaya apa. Setelah cari info sana sini dan liat review minyak ikan Mollers Tran, akhirnya gw memutuskan untuk beli. Karena produk ini selain mengklaim untuk pertumbuhan otak dan imun tubuh, ada embel-embel menaikkan berat badan (super excited dong gw). Cuuusss deh tanpa pikir panjang sung beli.

Mollers Tran terdiri dari 3 varian rasa: natural (tutup botol warna kuning), lemon (tutup botol hijau) dan tutti fruiti (tutup botol putih/biru).  Kenapa ada perbedaan warna tutup botol putih dan biru untuk rasa tutti fruiti? keduanya sama-sama original. Yang membedakannya tutup botol putih import dari Singapura, sedangkan tutup botol biru import dari US. Tetapi isi dan kualitasnya tetap sama, 1 merk dan 1 pabrik. Gw pilih yang rasa tutti fruiti (tutup botol biru), beli di olshop Rp. 450.000, isinya 250 ml/botol. Gw pikir rasanya manis macam permen buah gitu pasti anak-anak suka, ternyata macam minum minyak goreng rasa ikan aroma buah, dan amis ikannya masih agak kecium. Dosisnya sekali minum untuk 6 bulan keatas 5ml/hari. Nabil suka? Tentu tidak.. Emaknya aja enek banget, anaknya udah pasti hoek-hoek kepengen muntah. Siasatinnya setelah minum minyak ikan (dengan penuh perjuangan bujuknya), langsung gw kasih es krim/makan buah biar ngga terlalu berasa amisnya. Ini minyak kalau sampe tumpah, duuuh baunya di lantai aja ngga ilang-ilang loh 😦 Setelah botol dibuka, menurut petunjuk sebaiknya taruh di kulkas untuk menghindari bau tengik dan menjaga kualitas isinya dan konsumsi maksimal 3 bulan.

Terus gimana hasilnya? Baru coba beberapa hari dan ngga rutin minum tiap hari sih jadi belum terlihat signifikan, cuma kalau gw gendong Nabil udah (sedikit) berat. Patokan bb Nabil naik apa ngga pengukurannya berdasarkan gw kalo udah ngegendong harus dengan 2 tangan, ngga dengan 1 tangan lagi. Hehe… Mudah-mudahan Nabil makin lahap makannya setelah minum minyak ikan ini.