(Travel Diaries – 8) Tanjung Lesung: One of the Best for Short Trip

Tanjung Lesung, namanya memang tidak setenar Pantai Anyer ataupun Carita, tetapi keindahannya tidak kalah dengan kedua pantai ini. Letaknya di daerah Serang-Banten Kabupaten Pandeglang, Tanjung Lesung menawarkan wisata laut yang tenang dan jauh dari keramaian.

Untuk menuju ke sana bisa melewati jalur: Jakarta – Tol Merak (keluar di Serang Timur) – Pandeglang – Labuan – Tanjung Lesung. Memang sih membutuhkan waktu yang tidak sebentar, perjalanan dari Bogor saja bisa menghabiskan waktu 6-7 jam (itu udah plus nanya sana sini sih). Karena baru pertama kali ke tempat ini jadi sampenya agak lama, ditambah lagi dengan jalanan yang kurang mulus karena banyak bebatuan, berlubang dan perbaikan jalan dimana-mana. Karena gw ke sana akhir Bulan Juni, beruntungnya jalanan lumayan lancar. *Lancar aja 6-7 jam gimana kalo macet??!*

Pantai disini menurut gw terkesan private dan exclusive, kalau memang butuh suasana tenang untuk “melarikan diri” dari bisingnya Ibukota, Tanjung Lesung cocok untuk jadi destinasi liburan. Banyak resor cukup mewah dengan penawaran harga yang terbilang mahal. Buat yang berbudget tipis tidak perlu khawatir, kalian masih bisa berlibur kesini kok, banyak rumah singgah yang bisa dijadikan pilihan dengan harga terjangkau di pemukiman penduduk.

Gw menginap di Kalicaa Cottage harganya mahal sekali, sekitar 2 jutaan (gpp lah gratisan ini). Dengan fasilitas: 2 kamar tidur, living room, TV, dapur, kamar mandi, water heater. Plus dapet dinner, breakfast, dan lunch di pinggir pantai. Desain cottagenya exclusive dan cozy banget. Tersedia private pool juga. Cottage di daerah sini berkisar 800ribuan sampe jutaan. walaupun harganya mahal, tapi fasilitas dan sarananya sesuai sih.

Kegiatan yang bisa dilakukan disini antara lain: snorkeling, berenang, dan main sepeda. Air lautnya cukup bening tapi banyak beberapa karang. Bukan pantai yang “wah” sih, tapi lingkungan sekitarnya bersih dan terawat.

Ingin mencoba alternatif pantai lain di daerah Serang-Banten? Tanjung Lesung adalah destinasi yang pas buat berakhir pekan. Jangan lupa ajak pasangan kamu! *kalo ngga punya pasangan, jangan ajak pasangan orang yah :D*

Happy traveling!

(Travel Diaries – 7) Jalan-jalan Murah ke Singapura

20 – 21 Februari 2012

Menyambung cerita gw yang dari Malaysia, akhirnya kita sampai di Beach Road – Singapura. Waktu sudah menunjukkan setengah 10 malem. Di sana kita ketemuan sama temen yang akan nampung beberapa hari ke depan. Horeee penginapan gratis. Buat yang mau traveling murah harus dimanfaatkan kaya gini, yang punya temen, sodara dll, tebengin aja. Lumayan irit pengeluaran loh.

Baru saja menginjakkan kaki di Singapura, kita langsung diajak ngelilingin Marina Bay, Merlion Park sama Esplanade. Cuma karena udah malem jadi pemandangannya ngga keliatan deh. Tapi hawa malem di Marina Bay sejuk banget, enak buat duduk-duduk liat pemandangan lampu-lampu kota sambil ngobrol.

Setelah dibawa muter-muter akhirnya kita menuju penginapan di daerah Upp Paya Lebar, host gw yang notabene adalah bos temen gw yang akan ngasih tempat tinggal itu orang India. Baik yah baru kenal udah mau ngasih gratisan tempat tinggal.

Sayang beribu sayang saat kita pulang menuju rumah host gw udah jam 11 malem lewat, tandanya MRT udah ngga beroperasi lagi. Terpaksalah NAIK TAKSI *garuk patung singa* buat kalian yang mau ke Singapura dengan berbiaya murah jangan coba-coba deh naik taksi, apalagi malem hari, harganya jadi 2x lipat. Gw abis 13SGD waktu itu. Taksi di sana juga ngga mau membawa penumpang lebih dari 4 orang, haram hukumnya! ngga ada tuh bisa dinego ngangkut 5 orang, jadi manfaatkanlah MRT atau bis yang maha murah itu. Untuk eskalator di sana sama seperti jalanan motor atau mobil, yang sebelah kiri untuk yang jalan lambat, sedangkan sebelah kanan untuk yang jalan cepet. Orang Singapura sangat disiplin dengan peraturan ini.

Buat yang pertama kali naik MRT jangan bingung, ikutin peta aja yang selalu tertera di setiap stasiun. Perhatiin warna-warnanya. Peta maupun penunjuk jalan di sana semuanya jelas dan enak dibaca. Kalopun mau bertanya ke orang Singapura mereka ngga segan untuk ngasih informasi. Mereka juga kebanyakan ngerti Bahasa Indonesia, jadi kalopun ngga bisa Bahasa Inggris ngga jadi masalah. Gw orang yang selalu nyasar (dimanapun), dan ngga ngerti arah. Tapi di Singapura rutenya itu mudah dan jaraknya deket satu sama lain, dijamin ngga nyasar deh. Selain itu setiap pemberhatian di setiap stasiun pasti diinformasikan. Emangnya KRL Jabodetabek, hih!

Untuk yang ngga mau ribet tiap naik bis atau MRT harus antri dulu atau bayar melalu mesin dan mesti nyiapin uang kecil atau koin, ada baiknya untuk beli EZ link card di loket stasiun, berlaku untuk 5 tahun. Harganya sebesar 12.00 SGD, dengan rincian: card cost 5.00 SGD, dan card value 7.00 SGD.

Hari pertama di Singapura tujuan kita ke Universal Studio. Foto-foto di sekitarnya aja. Konon kata temen gw kurang lebih sih sama permainannya kaya Dufan, jadi menurut gw sayang aja ngabisin duit sekitar 500ribu untuk itu. Dari Universal Studio kita langsung pindah lokasi ke daerah China town. Sesuai namanya, tempat ini menawarkan nuansa khas China. Tempat ini juga merupakan salah satu pusat perbelanjaan, kalo yang mau beli oleh-oleh di sini banyak dijual souvenir-souvenir murah. Beberapa kali gw disapa pedagang-pedagangnya dengan kalimat: “Selamat Pagi”. Keliatan banget yah orang Indonesia kayanya sering banget berkunjung kesini. Konsumtif! Hehe

Ngga lama muter-muter di China Town terus lanjut ke daerah Bugis, buat yang pengen beli oleh-oleh murah, Bugis salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Gantungan atau magnet lucu 10 SGD (3 buah), dompet 4 SGD, Belt 10 SGD (3 buah) dll. Bugis street ini menurut gw kaya ITC-nya Jakarta aja sih kurang lebih.

Buat yang suka barang-barang bermerk, Orchard tempatnya. Di Orchard Road berjejer bermacam-macam produk yang bikin mata nanar *soalnya ngga bisa beli* Mulai dari Miu-Miu, Prada, Louis Vuitton, Marc Jacob, Hermes dsb. Buat yang suka merk Charles and Keith, di Mall Ion Orchard perbedaan harganya bisa sampai 200ribu dengan yang ada di Indonesia. Gw beli tas Charles and Keith 53 SGD. Buat yang ngga pengen belanja bisa duduk-duduk aja di sepanjang Orchard Road sambil makan Uncle Ice Cream seharga 1 SGD, tersedia berbagai rasa.

Setelah puas jalan-jalan dan blanja blenji, sore kita berakhir di Marlion Bay (lagi). Tempat persinggahan kita selanjutnya Fullerton Hotel, letaknya di tepi Singapore River sekitaran Marina Bay. Kalo yang mau foto-foto di sini banyak patung-patung unik, lucu-lucu deh. Setelah istirahat dan foto-foto (lagi) kita lanjut menuju Esplanade. Terus ke Merlion Park, patung berkepala singa yang menjadi icon Singapura. Di daerah ini tracknya bisa juga dipake buat jogging.

Malemnya kita menyambangi Little India dan Mustafa Center. Little India itu daerah komunitas yang semua isinya orang India. Ngga pengen lama-lama deh di tempat itu, baunya alamakjaaaannn..minyak nyongnyong kalah!!!! Di sekitar sini banyak Money Changer. Buat yang mau nuker duit ngga akan kesulitan nyari. Dari Little India kita langsung mengunjungi Mustafa Center, Departement Store yang buka 24 jam dan menjual produk apa saja dengan harga miring. Misalnya saja, coklat Hershey’s dijual seharga 4-7 SGD. Parfum Aigner yang di Indonesia seharga 850ribu, di Mustafa Center dijual dengan harga 90 SGD atau setara dengan 650ribu *Etapi di online shop bisa dapet harga 300ribuan, ngapain jauh-jauh ke Singapura ya :p*

Makan malem kita berakhir di food court Food Republic, ditraktir sama temen gw menu chicken rice. Lumayanlah gratis 😀 Satu hal yang biking gw heran di Singapura, di food court maupun resto junkfood pembersih mejanya semuanya nenek-nenek. Hebat ya negara ini, dia tetap memberikan lapangan pekerjaan buat yang non produktif sekalipun supaya mereka ngga jadi pengangguran. Ya tentunya pekerjaannya ringan dan mudah. Makanya angka kriminalitas di sini minim banget.

Di rute yang sudah kita jelajahi, ada beberapa yang cuma kita lewatin gitu aja. Kaki kurang bersahabat karena udah pegel banget. Singapore Art Museum sama Asian Civilisation Museum. Kita juga ngga sempet ke Singapore Botanical Garden sama Song of the Sea, karena kebanyakan jalan kesana kemari. Untuk yang cape kemana-mana jalan kaki disarankan ikutan city tour Hop and Off bus aja. Suatu saat pengen balik lagi ke sini, mengunjungi tempat-tempat yang belum sempet kita datengin.

Happy traveling!

(Travel Diaries – 6) Setengah Hari di Malaysia

18-19 Februari 2012

Kali ini mau berbagi cerita tentang short trip gw ke luar negeri: Malaysia plus Singapura. Singkat cerita, gw kesana bareng 2 temen gw, yang ngga sampe sehari (di Malaysia). haha..numpang lewat doang. But anyway, horeeee akhirnya gw punya paspor yang bisa di cap :))

Itungan biaya yang dikeluarkan sekitar Rp. 2.000.000 dengan kurs 1 RM = Rp. 3.000 dan 1 SGD = Rp. 7.200. Sudah termasuk tiket pesawat PP, akomodasi dan makan. Oleh-oleh belum termasuk. Akomodasi udah dipesen jauh-jauh hari. Gw pesen tiket Air Asia yang promo tentunya, sekitar 8 bulan yang lalu dari tanggal keberangkatan. Akhirnya dapatlah penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur sebesar Rp. 30.000 (believe it or not), include tax jadi Rp. 35.000. Ini adalah penerbangan termurah seumur hidup gw.

Kalau pengen traveling murah, kita mesti rajin-rajin searching maskapai yang menawarkan tiket promo. Air Asia adalah satu dari sekian banyak maskapai penerbangan berbiaya rendah dan pas dikantong. Tapi untuk dapetin tiket yang super murah, biasanya kita harus pesen beberapa bulan sebelumnya. Buat yang punya waktu fleksibel lebih enak mengkondisikannya. Kalo yang belum dapet-dapet jangan putus asa, cari teruuusss..sampe bulu mata keriting!!! Karena setau gw Air Asia paling rajin ngasih tiket promo.

Karena penerbangan kita ke Kuala Lumpur malam, kita memilih untuk tidur di bandara aja. Selain lebih hemat biaya, toh di Kuala Lumpur kita cuma sehari doang, ngga sampe sehari malah. Numpang lewat doang intinya. Kita tidur di Kuala Lumpur depan Resto Old Town. Karena tempatnya lumayan anget dan ada kursinya, jadi ya tidur di kursi aja 😀 tenang aja, ngga diusir petugas kok. FYI Malaysia itu punya 2 bandara, KLIC dan LCCT. Untuk yang pake pesawat Air Asia mendaratnya di LCCT, bandara udara khusus penerbangan pesawat Air Asia, “the one and only”. Pesawat murah emang selalu dianaktirikan, hiks. Menurut gw bandara disini kurang bagus, yaaa kurang lebih kaya di Soetta terminal 1 lah.

Buat yang pengen “nginep” di Bandara LCCT juga ngga usah khawatir, bandara di sini ngga sedingin di Bandara Soetta. Jadi berbalut jaket dan celana panjang aja udah cukup menghangatkan badan kok, ngga perlu bawa sleeping bag (kaya gw). Selain itu LCCT juga lumayan padat orang, jadi itu juga kali yah yang bikin udaranya ngga terlalu dingin. Sekitar jam 2 atau 3 pagi lalu lalang orang mulai sepi, baru deh tuh udaranya agak sedikit dingin.

Untuk kamar mandinya, di depan Old Town tersedia kamar mandi umum. Bersih dan WC nya banyak. Ada WC jongkok juga WC duduk. Malaysia sama kok kaya di Indonesia, toiletnya menyediakan air. Sewaktu gw di sana ada juga loh orang yang niat buat mandi.

Untuk makan malam, sebagai traveler ber-budget tipis tentu kita akan memilih makanan yang murah meriah: apalagi selain junkfood, haha..yap Mc.D, dengan harga sbb:

– Cheese burger 3.95 RM
– Fried Fries 3.2 RM
– Air mineral 1.2 RM

Oh ya gw nemu kejadian sewaktu di sana, gini ceritanya..gw sama kedua temen gw mau beli air mineral, ada lelaki paruh baya berpakaian rapi ngedatengin kita. Dia nanya gw orang Filipina atau bukan, ya gw bilang bukan dong. Terus dia minta 5 Ringgit, alesannya sih buat nelepon karena dia ngga punya uang koin. Meeennn padahal kalo dia niat, dia bisa aja kok nuker duit atau belanjain duitnya, kembaliannya bisa minta uang koin deh. Ngga sadar apa muka kita kere betul gini 😦 Karena ngerasa aneh dia di bandara tapi duit 5 Ringgit aja ngga punya ya gw abaikan aja, toh gw juga traveler kere, 5 Ringgit tuh berarti banget buat 1x makan, hehe.. *maap ya om*

Oke, kembali ke rencana perjalanan gw, paginya kita berangkat lagi menuju KL Sentral dengan naik bis. Nama bisnya Aerobus, dengan tarif 8 RM. Tiketnya bisa dibeli di loket-loket saat kita keluar dari pintu bandara. Mereka akan berkoar-koar nawarin bis ke berbagai tujuan. Awalnya, kita rencana mau naik bis yang jam 6 pagi, tapi sayang keburu penuh. Akhirnya kita naik yang jam setengah 7. Jangan disamakan dengan di Indonesia, kalo bis yang satu udah penuh kita harus menunggu berjam-jam untuk naik bis selanjutnya. Di Malaysia tidak demikian, bis berikutnya udah stand by di tempat. Aerobus itu salah satu bis ukuran cukup besar (sebesar bis Agramas kalo di Jakarta), sangat nyaman dan bersih. Ngga ada satupun gw liat yang makan atau minum di bis ini. Perbedaan lainnya dengan di Indonesia, setiap transportasi di sini berjalan tepat waktu sesuai dengan jam keberangkatan dan supirnya ngga ugal-ugalan. Kayanya kecepatan km/jam ada patokannya deh, ngga boleh melebihi batas yang ditentukan.
Sepanjang perjalanan, ngga terlalu banyak pemandangan yang bisa dilihat. Cuma pohon, pohon, dan pohon. Waktu tempuh dari bandara LCCT ke KL Sentral sekitar 1 jam. Oh iya perbedaan waktu Indonesia dengan Malaysia itu 1 jam. Jadi jangan heran kalo di sana udah jam 7 tapi masih terlihat gelap kaya waktu Subuh aja.

Dari KL Sentral tujuan kita langsung ke Menara Petronas. Untuk menuju kesana kita naik monorail yang ke arah Bukit Nanas. Dari pemberhentian Stasiun Bukit Nanas kita tinggal jalan kaki ke arah Jalan Ampang, paling cuma 15-20 menit. Bisa juga sih naik bis, tapi lagi-lagi karena modal irit, mending walking street aja. Murah dan sehat *lumayan turun 2 ons*

Sebelum ke Petronas mampir dulu aja di Matic (Malaysia Tourism Center), daerah Jalan Ampang, kita bisa minta peta wisata di sana. 1 hal komentar gw buat orang-orang Malaysia, mereka itu judes-judes. Gw cuma nemu orang Malaysia yang ramah pas pengecekan di Imigrasi sama mba-mba di Matic ini. Sisanya?hih..

Sesampainya di Petronas, kita mampir dulu di mall sebelah Petronas (namanya lupa). Beda mall di Malaysia sama di Indonesia, jam 9 atau 10 mall di Indonesia udah buka. Nah di sana jam 11 baru buka. Berhubung laper kita makan dulu di foodcourt nya. Gw memilih makanan khas Malaysia:

Nasi lemak plus kentang+teri 7.00 RM
Teh tarik 1.50 RM

Nasi lemak itu kalo di Indonesia semacam nasi uduk, ada campuran lauk pauknya juga, bisa milih. Ada ayam, kentang, ikan, perkedel dll. Tapi menurut lidah gw saat itu, nasi lemak rasanya standar abis, jauh gurihnya dengan nasi uduk. Kalo soal makanan, ngga ada yang bisa nandingin kehebatan masakan Indonesia yang kaya akan bumbu-bumbu itu deh. Bahkan teh tariknya aja, lebih enak teh tarik sachet yang dijual di Indonesia, kaya Max Tea gitu. Beneran! rasa standarnya karena gw makan di foodcourt kali yah, toh di foodcourt Indonesia pun rasanya standar aja. Mungkin lain halnya kalo gw beli di pinggiran jalan, kali aja lebih enak dan rasanya khas Malaysia banget.

Setelah makan siang kita langsung foto-foto sampe mampus di depan Petronas, dengan keadaan belum mandi pula dari kemaren dan rambut lepek tentunya 😀 Terus langsung cuuusss deh ke Pasar Seni belanja blenji. Untuk menuju ke Pasar Seni dari Petronas kita jalan kaki ke Stasiun Dang Wangi, naik LRT. Semacam MRT kalo di Singapur. Lagi-lagi gw takjub dengan ketepatan waktu transportasi di Malaysia. Ketakjuban gw yang lain pada Malaysia adalah selama gw lirik kanan dan kiri di sana, jarang banget ada pengemis.

Selesai blanja blenji karena ngejar bis yang siang untuk ke Singapura, kita buru-buru bertolak ke Terminal Bersepadu Selatan. Dari Pasar Seni sekitar setengah jam naik monorail. Sampai di terminal kita langsung nyari loket bis yang ke arah Singapura. Karena panik kita buru-buru datengin loket yang ada di paling depan aja. Ternyata bis yang jam siang udah full booked, terpaksa kita naik bis selanjutnya. Sialnya kita kebagian bis yang tarifnya ngga bersahabat, hampir 2x lipat dari harga normal: 70RM. Akhirnya kita memesan bis yang namanya Five Stars dengan rute Singapura, Beach Road yang harga 70RM itu. Setelah kita berkeliling di Terminal Bersepadu Selatan, olalaaaa..ternyata agak di belakang banyak loket bis dengan tujuan Singapura yang harganya jauh lebih murah *nangis* yasudahlah nasi sudah menjadi bubur. Buat pengalaman aja, toh bis Five Stars ini nyamannya bukan main *menghibur diri* Waktu tempuh dari Terminal Bersepadu Selatan memakan waktu selama 6 jam dengan 2x pengecekan imigrasi. Saking nyamannya sampe ngga terasa, kayak perjalanan 2 jam aja *lebay dikit*. Kita berangkat setengah 4 sore dan sampai Singapura setengah 10 malam.

Begitulah sedikit pengalaman gw selama di Malaysia, tunggu cerita selanjutnya di Singapura yah..

(Travel Diaries – 5) New Year: Curug Gendang Bikin Blenger

1 Januari 2012

Liburan tahun baruan kemana? tahun ini bersama ke-16 teman traveling, gw tahun baruan di Anyer. Kita menyewa mobil travel ELF buat 3 hari 2 malem dengan harga Rp. 500.000. Untuk penginapannya kita menginap di cottage yang namanya Mambruk, per malamnya Rp. 2.500.000. Fasilitasnya: 2 kamar tidur. Kamar tidur bawah 3 bed (besar), kamar tidur atas 2 bed (kecil). Semua kamar mandinya ada di dalam kamar. TV, kulkas, dispenser, kompor, magic jar, semua peralatan masak lengkap.

Sebagai pecinta traveling, hari pertama sebelum tahun baruan tentunya adalah jalan-jalan. Tujuan kali ini ke Curug Gendang. Objek wisata berupa air terjun. Tempatnya di daerah Carita, Pandeglang. Untuk sampai kesana kita ngga bisa menggunakan mobil. Karena tracknya lumayan terjal dan sempit buat dilalui mobil. Kita hanya bisa mengendarai sampe pos, setelah itu bisa dilanjutkan memakai ojek dan disambung lagi dengan berjalan kaki. Karena motor pun ngga bisa lewat, jalannya setapak. Buat yang ingin mencoba kesana, disarankan menggunakan sepatu atau sendal gunung supaya lebih aman. Jangan pake sendal jepit kalo ngga mau kepleset, soalnya bebatuannya agak licin.

390037_2809082513765_930299773_n

390344_2809106554366_926870681_n

Ke Curug Gendang itu rasanya seperti semi hiking. Medannya berliku, jalanannya naik turun naik turun, becek, banyak tanah, batu dan lumpur, licin, sampingnya jurang sama hutan. Blenger ngga tuh? Tapi seru, walaupun kaki pengkor. Secara jalan kakinya bisa 1-2 kilometer, betis bekonde deh. Tapi karena perginya rame-rame capenya jadi ngga berasa *pret banget*

408892_2809398281659_1150459092_n

Acara akhirnya ditutup dengan pasang kembang api sama petasan di pinggir pantai pas malam tahun baru, juga nyeplokin Junet telor sama semut rang-rang (kasian kamu, nak!) yang pada saat itu berbarengan sama ulang tahunnya. HAPPY BIRTHDAY JUNET, WELCOME 25 🙂

Selamat tahun baru 2012, semoga tahun baru kalian juga menyenangkan ya.

Happy traveling!

20140225-230839.jpg

(Travel Diaries – 4) Exploring Karimun Jawa

30 Oktober – 1 November 2011

Karimun Jawa, daerah itu akhir-akhir ini seringkali dibicarakan. Karena alasan itu lah gw memutuskan untuk mengunjungi seberapa indahnya pantai di tempat tersebut. Agak mendadak dan tanpa perencanaan sebenarnya, gw kesana berempat bareng teman dan sodara gw. Kita mengambil paket di agen ini: sukawisata.com, informasinya bisa dilihat di Facebook Karimun Jawa Murah. Agen ini menawarkan harga trip yang terbilang cukup murah dibanding agen yang lain. Awalnya sih gw agak ragu, karena agen ini punya track record yang kurang oke dari yang gw baca di link ini:

http://groups.yahoo.com/group/Jejakkaki/message/7469.

Tapi karena budget yang super tipis, akhirnya gw tetap menggunakan agen ini dan memilih jadwal 3 hari 2 malam dengan harga Rp. 495.000,00. Awal keberangkatan gw adalah dari terminal Bogor-Lebak Bulus. Sebenarnya di Bogor ada beberapa bis yang langsung jurusan Jepara, salah satunya adalah bis Santika, lumayan bagus sih bisnya. Tapi menurut salah seorang teman gw bis jurusan Jepara yang recommended adalah Mujijaya atau Bejeu. Konon katanya bis lain suka mengangkut penumpang di sembarang tempat, alias berenti-berenti seenak jidat. Akhirnya gw naik bis Bejeu, harga tiketnya Rp. 120.000,00 sudah termasuk snack (air mineral+roti) dan mendapat makan malam (seadanya). Bis-nya bersih dan nyaman, untuk kamar mandinya yaaaa “agak” bau sih. Yang paling penting tersedia colokan listrik.

Bis-nya berangkat jam 5 sore, tiba di Jepara jam setengah 6 pagi. Perjalanan Lebak Bulus-Jepara sekitar 13 jam. Betapa keritingnya tulang-tulang gw setelah perjalanan itu. Untuk sampai ke pelabuhan Jepara kita bisa naik becak Rp. 10.000-15.000/2 orang atau minta diantarkan langsung oleh bis-nya, kita tinggal menambah ongkos Rp. 10.000,00/orang.

Beruntungnya, trip kali ternyata kapalnya agak kosong. Tapi sialnya pemberangkatan jadi ngaret, yang seharusnya jam 7 menjadi jam 9. Nama kapal yang mengangkut kita dari Jepara ke Karjaw adalah Kapal Muria, terdiri dari ruang ekonomi dan VIP. Kalau mau pindah ke ruang VIP harus menambaj Rp. 20.000,00/orang. Fasilitasnya ada AC, kamar mandi di dalam ruangan, dan tentu saja kursi yang lebih nyaman. Menyebrang laut dari Jepara ke Karjaw memakan waktu kurang lebih 6 jam *penderitaan ternyata belum berakhir sodara-sodaraaaa* Buat yang suka mabuk laut jangan lupa ya bawa Antimo, Tolak Angin, Kayu Putih, atau minyak angin lainnya. Berguna bangeeeettt! *ketara banget sih gw mabok laut*

Sampai di Karjaw kita disuguhkan dengan welcome drink es kelapa muda (boleh nambah sampe kembung). Dan dijemput menggunkan mobil pick up untuk menuju homestay.

Gw dapet homestay yang enak, bersih, besar dan nyaman banget. Hanya saja panasnya ngga nahan, badan berasa lengket. Nama homestay yang gw tempati adalah Karimun Indah Family, dengan fasilitas 2 double bed, meja+kursi, fan, rak handuk, kamar mandi di dalem (shower+closet duduk). Semuanya bersih dan terlihat baru. Namun sayang disini listriknya masih dijatah, dari jam 5 subuh sampai jam 6 sore semua listrik padam. Kebayang dong panasnya kaya apa. Jadi sebelum pergi pastikan alat elektronik kalian terisi penuh ya.

Yang paling mengecewakan dari agen ini adalah makanannya, rasanya ngga karuan. Akhirnya kita memutuskan untuk makan di pinggir pelabuhan. Kakap merah bakar+2 nasi+2 es teh manis hanya Rp. 26.000,00 aja. Murah banget yah? Rasanya juga enak.

Hari pertama di karjaw, acara bebas. Berkenalanlah kita dengan teman-teman satu agen yang sama. Ada Rico, Imel, Agus, herul, Junet, Anna, Tiwi. Plus duo maut Caca sama Denny, haha.. Gara-gara Karjaw, sampai saat ini kita tetep keep contact dan sering traveling bareng loh.

Walaupun Karjaw letaknya diantah berantah, jangan salah, ada juga loh cafe disana. Namanya Amore, tempatnya cozy banget. Viewnya langsung menghadap laut. Makanannya juga variatif dan cukup murah.

Hari kedua adalah acara full nya. Kita berangkat dari pelabuhan jam 8 pagi, menggunakan kapal motor. Wilayah yang akan kita jelajahi antara lain: Pulau Cemara Besar, Pulau Menjangan, Penangkaran Hiu, Pulau Gosong, Pantai Ujung Gelam. Untuk pulau satu ke pulau lainnya jaraknya cukup berdekatan.

Hari ketiga, jam 7 pagi kita udah siap-siap kembali ke Jepara lagi. Ternyata ada kejadian tak disangka-sangka, kapalnya penuh banget, ruang ekonomi maupun VIP. Panik melanda! Sialnya sebelumnya kita belum memesan tiket VIP untuk pulangnya, karena berpikir pasti akan kosong sama saja dengan hari keberangkatan. Salah besar! *bulir-bulir air mata pun berjatuhan* *nangis*

Hari itu ruang VIP harganya naik berkali lipat, menjadi Rp. 60.000,00 dan tiket pun sudah ludes terjual. Akhirnya kita berinisiatif menyewa kamar nahkoda di lantai 3, dan harus membayar harga Rp. 300.000,00/kamar. Karena kita berempat jadi per orang dikenakan Rp. 75.000,00, lebih nyaman dari ruang VIP tentunya. Karena selain ber-AC ada tempat tidurnya juga. Rezeki ngga kemana ya.

Perjalanan Karjaw-Jepara menghabiskan waktu 6 jam, dan kita tiba kembali di pelabuhan Jepara jam 2 siang. Masih dalam keadaan letoy turun dari kapal laut, gw pun harus meneruskan perjuangan naik bis Jepara – Bogor yang menghabiskan belasan jam (lagi). Tetapi paling tidak pantai di Karjaw sudah mengobati semua.

Buat yang suka traveling ke pantai, Karjaw patut dicoba. Selain terumbu karangnya yang masih bagus, airnya juga jernih dan bening banget loh. Wilayah disini belum terlalu terjamah banyak orang, wisatawan mancanegara juga masih sedikit sewaktu gw kesana. Daripada liburan ke luar negeri, yang pengeluarannya sudah pasti merogoh kocek yang mahal, ada baiknya jelajah dulu alamnya Indonesia. Budgetnya murah dibandingkan wisata dalam negeri di tempat lain. Memang sih perjalanannya memakan waktu yang tidak sebentar, tapi percaya deh semua bakal terbayar dengan keindahan alam yang ada disana. Jangan lupa siapkan stamina yang oke dan pilih bulan-bulan di musim kemarau buat berlibur kesana.

Happy traveling!

CP:

Bis bejeu (081390409436)

(Travel Diaries – 3) My July, Oh My Bali

4-7 Juli 2011

Traveling kali ini sebenernya cita-cita sejak 6 tahun yang lalu pengen punya quality time bertiga bareng sahabat-sahabat gw, tapi baru terealisasikan tahun 2011. Apalagi kalo bukan masalah waktu dan finasial. Selesai skripsi gw langsung ngacir ke Bali. Tiket PP udah dipesen jauh-jauh hari dari bulan Desember 2010. Untung banget gw dapet tiket promo Air Asia PP 250ribu. Hasil dari mantengin seharian depan kompi sampe mata juling.

Sampai di bandara Ngurah Rai temen gw ternyata udah sewa mobil. Gw lupa tempat penyewaannya namanya apa, ini no teleponnya: 0812-3668609. Gw menyewa karimun dari hari Senin malem sampe Kamis malem, itungannya sih jadi 3 hari. Per harinya Rp. 150.000/malem, exclude bensin tentunya.

Beruntungnya lagi gw dapet gratisan hotel daerah Sanur dari kantor teman gw ini, 3 hari 2 malem. Lumayan irit pengeluaran. Nama hotelnya Inna Sindhu Beach, pemandangannya asik banget, langsung depan pantai. Harga per malemnya aja 165 US Dollar plus sarapan prasmanan, sepuasnya..

Jadwal dan rute gw selama di Bali:

Hari 1:

  • Sampe hotel
  • Isi bensin
  • Makan
  • Beres-beres
  • Istirahat

Hari 2:

Sanur.

Sukawati. Buat yang suka belanja belom komplit kalo ngga mampir kesini. Di tempat ini banyak menjual baju, tas, celana, sendal, aksesori maupun kerajinan tangan khas bali dengan harga yang murah.

Kintamani. Di sini kita bisa melihat pemandangan yang indah banget. Kalo turun ke bawah ada sebuah desa unik yang namanya Trunyan. Untuk menuju kesana kita bisa menyebrang menggunakan perahu. Di desa itu konon katanya ada kuburan yang ngga melakukan tradisi pembakaran atau mengubur mayatnya, dan anehnya sama sekali ngga mengeluarkan bau. Untuk yang pengen ke Desa Trunyan hati-hati ya, soalnya suka banyak abang-abang yang maksa ke pengunjung buat ke desa tersebut dan mematok dengan harga yang mahal. Gw aja dipepet terus-terusan.

Tegalalang. Tegalalang terletak di Utara Ubud. Tempat ini terkenal dengan wisata alam persawahan, semacam terasering, bernuansa hijau.

Ceking

Monkey Forest (tiket masuk: Rp. 20.000,00). Tempat ini merupakan lokasi hutan wisata di daerah Ubud. Terdapat ratusan monyet ekor panjang yang mendiami Monkey Forest. Untuk memasuki kawasan ini sebaiknya hati-hati, jangan memakai perhiasan atau aksesori lainnya. Karena pas gw kesana ada yang antingnya diambil sama si monyet (hadeuuuh!). Monyet-monyet disana lincah-lincah banget, jadi jangan heran kalo mereka tiba-tiba naek ke pundak pengunjung. Gw sih ngga mau lagi deh kesini. Jauh lebih serem daripada ke rumah hantu 😦

Ubud

Hari 3:

Tanah Lot (tiket masuk: Rp. 7.500,00). Kalo ke Bali tempat ini harus masuk dalam daftar. Ngga jauh letaknya dari Kuta. Tanah Lot dikenal sebagai tempat wisata buat melihat sunset. Sayang banget pas gw kesana lagi penuh-penuhnya, jadi susah banget untuk ambil foto aja. Di sepanjang jalan menuju Tanah Lot juga banyak dijual berbagai macam dagangan khas Bali, tapi harganya agak mahal dibanding di tempat lain.

Bedegul (tiket masuk: Rp. 7.500,00).

Jimbaran (sayang banget pas kita kesana lagi Galungan, jadi tutup. Padahal ngarep banget makan seafood di pinggir pantai, sampe ngga makan siang, hiks)

Kuta. Kuta merupakan pantai yang terkenal banget di Bali, karena jadi destinasi favorit buat berselancar. Tempat lain yang wajib dikunjungi di sekitar Pantai Kuta tentu saja Tugu Peringatan Bom Bali. Untuk belanja blenji di Kuta, berjajar toko yang menjual berbagai barang dan pakaian mulai dari yang harganya murah sampai butik-butik yang mahal. Banyak pilihan.

Nyari hotel di Kuta

Hari 4

Jalan-jalan ke Pantai Kuta

Dreamland (masuk gratis cuma bayar parkiran).

20140226-004106.jpg

Tanjung Benoa (tiket masuk: Rp. 5.000, 000) disana gw parasailing (sekitar 10 menitan) sama banana boat-an.

Uluwatu (nonton tari kecak, tiket masuk: Rp. 70.000, mulai jam 18.00-19.00 WITA).

Hari ke 3 malemnya gw nginep di daerah poppies lane 2 – Kuta no. 3A, namanya Segara Sadhu Inn (0361-759909), Rp. 200.000/malem. Karena gw bertiga jadi kena cas lagi Rp. 50.000,00. Ada sih yang lebih murah dari ini tapi full booked semua, maklum Juli bertepatan dengan liburan. Sepanjang jalan Kuta sebenernya berjajar hotel yang bisa dipilih dan murah-murah, tapi karena udah malem dan cape banget abis muter-muter jadinya ya nginep disini aja. Sekedar saran kalo mau nyari hotel mending pagi atau siang aja deh, pas semangat 45 lo masih ada.

Berbudget tipis dan mau penginapan yang agak murah? cobain aja ke Losmen Cempaka, daerah Poppies Lane II (0361-754744), tapi disini ngga ada tempat parkir.

Kamarnya yang gw tempatin ini bersih dan nyaman, plus tempat parkirnya juga lumayan ngga sempit-sempit amat, sekitar 4 mobil empet-empetan cukuplah. Fasilitas di hotel ini: 2 single bed, tv, ac, fan, private bathroom, meja+kursi, lemari. Dapet sarapan pagi mie instan+telor dan teh manis.

FYI hotel di sepanjang poppies ngga bisa di booking (kalo ngga salah), jadi biasanya langsung aja dateng kesana, banyak kok pilihannya. Syukur-syukur masih ada kamar. Kalo lagi bulan Juli atau musim liburan gini sih biasanya sebagian hotel terisi penuh. Jadi jangan lupa memesan tempat sebelumnya di tempat lain yang bisa di booking.

Happy traveling!

(Travel Diaries – 2) Jogjakarta

9-10 Mei 2011

Ke Jogja kali ini dalam rangka refreshing sebelum menjelang skripsian, tujuan besarnya sih nemenin partner nge-trip yang sebenernya niat nyari wangsit terhadap hubungan percintaannya yang bisa dibilang: rumit! *sedap betul*

Abis jalan-jalan ke Semarang, kita langsung bertolak ke Jogja. Ke kota ini udah yang ke 3x-nya. Walaupun udah 3x menginjakkan kaki di Jogja tapi selalu aja ada keinginan untuk balik lagi ke kota yang maha tentram ini *yaiyalaaahhh di Jakarta diasepin mulu*

Dari Semarang gw berdua sama temen gw ke Jogja naek Joglo Semar. Bis ukuran mini dengan tarif Rp. 40.000,00. Udah termasuk snack (roti+aqua gelas). Rotinya enak. Entah rotinya yang enak, entah pada saat itu gw lagi kelaperan. Beda tipis. Bisnya bersih, nyaman, AC dan ada pramugarinya. Jadi buat kita berdua merasa aman untuk naek bis di malem hari. Pramugarinya wangi fyi *penting*

Dari Semarang ke Jogja menghabiskan waktu kira-kira 3 jam. Kita menginap di Hotel Puspita, sebelumnya memang sengaja booking kamar dulu, karena perkiraan kita tiba di Jogja malam hari. Dari pool Joglo Semar kita naek taksi, lumayan deket jaraknya, sekitar 15 menitan ke tempat hotel tujuan. Gw lupa nama taksinya apa, Centri atau Vetri, tapi argo taksinya buat gw cukup mahal.mahal, pokoknya mahal!! Dari Joglo Semar ke hotel bayar Rp. 30.000,00, padahal jaraknya deket banget dan jalanan pun kosong. Secara udah jam 11 malem gitu. Harga Blue Bird juga kalah ini sih.

Kita milih kamar Puspita 3, dengan harga Rp. 110.000,00/malem, murah meriah muntah lah yang penting. Untuk kebersihannya ya cukuplah dengan sewa kamar semurah itu.

Fasilitasnya: double bed, ac, tv, private bathroom, meja kursi, lemari plus dapet rak handuk. Dapet sarapan juga buat 2 orang, nasi goreng telor ceplok + teh manis.

Hotel yang gw tempatin ini bangunannya khas rumah adat Jawa yang masih asli banget, lengkap dengan hiasan ornamen kayu gaya Jawa. Hotelnya cukup terawat, kamarnya pas buat 2 orang. Menurut gw tarifnya juga murah. Selain itu letaknya juga strategis, depannya langsung jalan raya. Ngga jauh dari Malioboro, Keraton Jogjakarta, sama Taman Sari. Kalau mau ke bandara juga tinggal naik bis atau becak terus disambung naik Trans Jogja, kurang lebih setengah jam.

Kalo yang ngga menyewa mobil/motor, di hotel ini juga menyediakan jasa becak buat keliling Jogja. Tukang becaknya mematok harga Rp. 20.000,00 buat nganter seharian. Murah banget ngga sih?? Jogja emang semuanya super muriah meriah ya.Tapi karena ngga tega, kita kasih Rp. 50.000,00 aja. Yakaliiii betis doi bekonde gowes mulu dari siang sampe malem, mana temen gw agak (ehem..) berlebih kilogramnya.

Selama 2 hari di Jogja, kita ngga terlalu banyak kemana-mana, sebenernya sih karena sama-sama buta arah 😦 kita cuma jalan-jalan ke:

1. Malioboro. Ini adalah salah satu ikon Kota Jogja, sebuah kawasan perdagangan yang letaknya ngga jauh dari Keraton Jogja. Di sepanjang jalan Malioboro banyak pertokoan, rumah makan dan juga pusat perbelanjaan. Kalo menjelang malam, banyak lapak lesehan digelar disini yang menjual masakan khas Jogja. Elo belum dianggap hits kayanya kalo ke Jogja tapi ngga mampir ke tempat ini, hehe..

2. Taman Sari. Tempat ini terdiri dari beberapa bangunan dan merupakan taman kerajaan Sultan Jogja dan keluarganya. Selain tempat meditasi bagi raja, Taman sari juga tempat tinggal para selir raja dan putri-putri raja.

3. Keraton Jogja. Sebutan lain untuk istana, di Jawa Tengah disebutnya keraton. Bangunan keraton disini lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa, walaupun ada beberapa bagian campur tangan budaya asing. Keraton ini boleh dikunjungi oleh masyarakat umum, walaupun ngga seluruh bagian dapat dilihat.

4. Benteng Vrederburg

5. Tugu

6. Alun-alun (Naek Sepeda)

Kalo mau menyewa sepeda disana, yang tandem buat 2 orang Rp. 10.000,00.

Disarankan kalo mau jalan-jalan, kayanya mending nyewa mobil/motor deh supaya bisa keliling-keliling. Sayang kita berdua ngga ada yang bisa nyetir dan ngga apal jalan (lengkap yah), jadi tempat wisata di Jogja banyak yang belum bisa dijelajah deh. Padahal pengen banget ke Ulen Sentalu sama ke candi, tapi karena udah kesorean batal deh.

Selalu ada alasan buat gw balik lagi ke Jogja, entah karena orang-orangnya yang ramah-ramah, harga makanannya yang murah-murah, atau ketenangan kotanya.
Pokoknya Jogja ituuuuuu…selalu bikin rindu 🙂

Happy traveling!

Contact:
Joglo Semar:
024-7477700/0813-29329329

Hotel Puspita
Jl. Mayjend Sutoyo no.64, Yogyakarta
0274-4371065/0813-28114432

Pak Edi (Tukang Becak Depan Hotel Puspita): 087839584186