Aku Mau Kamu Pulang

Aku membenci bandara. Landasan pesawat tempat persinggahan orang berpisah namun akan dipertemukan kembali kemudian.
Kesekian kalinya, aku menjadi saksi kamu pergi.
Mendapati punggungmu perlahan menjauh.
Meninggalkan aku yang ditempa rindu.
Menyadari pundakku tak lagi berpenghuni.
Mengucapkan selamat jalan dan melambaikan tangan adalah sesuatu yang harus aku relakan.
Perpisahan selalu menjadi perihal yang tidak mengenakan, setidaknya itu buatku.
Aku mau kamu disini, pulang dan tinggal lebih lama lagi.

Dedicated to my bittersweet:
Adi Yudistira

Advertisements

Aku Ingin

Terkadang aku ingin menjadi angin di ruangmu.
Tanpa mengenal waktu menyapu liar rambut dan peluh dikeningmu.
Setidaknya aku bisa dekat sampai pori-pori tubuhmu.
Tak perlu merasa lelah menahan rindu.
Tak perlu menatap jarum jam yang lamban melaju ke kanan, sekedar berharap waktu cepat berlalu.
Ada hari-hari dimana rinduku semudah air hujan yang turun, tidak demikian dengan saat ini, aku enggan menunggu.

Bekerja Atas Nama Cinta

Setelah 3 tahun 9 bulan berdedikasi untuk Fadli Zon Library akhirnya gw memutuskan resign dari kantor ini. Ada perasaan seneng campur sedih meninggalkan semua hal yang ada disini. Seneng karena gw bisa mencari pengalaman baru, suasana baru, menambah relasi baru, juga wawasan yang baru. Sedih karena gw harus meninggalkan orang-orang yang udah gw anggap seperti keluarga, juga segala kenangan di setiap sudut kantor layaknya rumah sendiri. Apalagi pelukan pak bos setelah pamitan kemaren bikin hati gw nyeesss :(.

Selama itu gw berada di ruang kerja lantai 2 dengan meja besar berwarna hitam dan kursi super empuk andalan, disertai camilan-camilan di atas meja yang sering gw rampas dari lantai bawah demi memuaskan nafsu makan gw yang berlebih,haha *ketawa jumawa* Etalase kaca depan meja kerja yang berisi penuh arca-arca serta aksesori berlapis emas yang entah hadir di zaman kapan, terkadang suka gw pakai beberapa buat properti foto. Koleksi perangko dan koin lama yang dipajang dengan apik di dinding rak. Lukisan macan tutul di belakang meja kerja yang menjadi saksi bisu apa aja yang gw browsing selama ini kalo lagi ngga kerja. Lorong-lorong perpustakaan yang seringkali berdebu karena makin kesini jarang dibersihkan oleh pengurusnya. Keris-keris dan tombak-tombak disudut kanan yang berjajar rapi serta berbagai lukisan dan patung yang selama ini menemani  gw di ruangan, mereka selalu berada di tempat yang sama. Etalase kaca dekat keris dan tombak berjajar, ada kumpulan kotak berisi surat kabar masa lampau, yang untuk membuka lembarannya saja membutuhkan usaha yang ekstra saking besarnya. Atau meja catur yang lebih sering gw liat-liat aja ketimbang memainkannya, karena memang pada dasarnya gw ngga bisa main catur. Dan masih banyak lagi. Semuaaaaa…semua sudutnya punya kenangan tersendiri buat gw. Bahkan pejam mata pun gw bisa mendeskripsikan ruangan tersebut.

Gw cinta dengan semua sudut ruangan disini. Walaupun dengan AC 2 buah yang lebih sering mengeluarkan hawa hangat ketimbang sejuknya padahal sudah berkali-kali di service. Atau intenet yang super cepat tapi terkadang suka mati kemudian nyala kembali, entah kenapa. Atau listrik yang terkadang turun karena tidak kuat dengan beban yang dipakai dan secara otomatis komputer pun mati tiba-tiba dengan kerjaan yang belum di save. Atau CPU yang tiba-tiba error akibat fumigasi. Atau printer yang juga ikutan error sehingga untuk ngeprint gw harus bolak balik ke lantai 1 *mungkin gw memang harus sedikit olahraga* Semua itu hampir gw alami setiap hari, dan tetap tidak mengurangi kecintaan gw pada Fadli Zon Library.

Dulu ketika gw baru menginjakkan kaki di tempat ini, suasana lantai 2 “dingin”, ya wajarlah isinya benda berhala macam patung, lukisan, keris dan arca-arca zaman dulu. Lama kelamaan gw makin terbiasa dengan situasi ini, dan berangsur-angsur hawanya pun mulai menghangat. Beruntungnya selama gw disana, ngga pernah sekalipun menemukan “kejadian-kejadian” aneh. JANGAN SAMPE!

Bisa dikatakan pekerjaan yang gw geluti sekarang adalah pekerjaan paling monoton sedunia dan tentunya dipandang sebelah mata. Hari gini siapa sih yang kepengen jadi librarian/arsipris? Mungkin hanya segelintir orang yang salah masuk jurusan atauuuuuu…kutu buku mungkin. Apalagi di Indonesia kurang sekali dengan yang namanya menggalakan gemar membaca. Perpustakaan adalah jurusan yang jauh dari ketenaran, setidaknya mayoritas orang mengatakan demikian. Setiap hari mengerjakan rutinitas yang sama, berinteraksi dengan benda mati, tidak ada kepastian jenjang karir, terkadang yang bikin melelahkan adalah harus naik turun tangga untuk shelving karena rak yang memang tinggi-tinggi . Oh ya kerja di perpustakaan cukup beresiko juga loh, jangan salah. Ngga jarang gw ketiban buku tebel, tangan beset-beset karena kepentok ujung buku bahkan jari-jarinya kegores kertas buku baru yang masih tajem-tajem. Apa enaknya? Gw bukanlah orang yang gemar membaca, tapi suka dengan buku. Dari kecil gw suka mengumpulkan buku. Gw suka ngerawat buku, ngerapihin buku, atau menata buku biar tersusun dengan rapi. Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat buku-buku tersebut terpampang di rak. Apalagi bisa memberikan informasi yang dibutuhkan penggunanya. Rasanya puas. Gw lebih seneng dikatakan sebagai staf informasi. Selain terdengar lebih kece di telinga, buat gw informasi itu ngga melulu tentang buku.

Bekerja tuh emang harus dengan cinta biar bahagia lahir batin. Mau apapun pekerjaannya, buat gw, asal kita mencintai pekerjaan tersebut dan mengerjakannya dengan ikhlas semuanya pasti akan terlihat menyenangkan. Bosan itu hal yang lumrah, pinter-pinternya kita aja menyiasati. Tapi jangan terbawa suasana yang bikin kita malah jadi males bekerja. Kecintaan gw terhadap pekerjaan yang membuat gw bertahan sampai selama itu di Fadli Zon Library. Mungkin suasana yang tenang dan bebas dari under pressure adalah faktor yang juga membuat gw kerasan berada disini, homey dan juga kekeluargaan. Di tempat yang baru gw belum tentu bisa merasakan kenyamanan kaya disini. Ya tapi apapun pekerjaannya pasti punya resiko masing-masing. Kalo ngga ada tantangan dan tetap berada dalam zona kenyamanan orang tidak akan berkembang bukan? Paling tidak carilah pekerjaan yang kita cintai. Jadi nikmatilah apapun pekerjaan kita sekarang, bersyukurlah karena diantara jutaan pengangguran kita termasuk orang yang beruntung karena punya pekerjaan dan penghasilan. Dan perlu diingat bekerjalah atas nama cinta 🙂

(Travel Diaries – 11) Jelajah Green Canyon

Akhir September ini (28-30 Sept) gw habiskan untuk mengunjungi Green Canyon dan Pantai Pangandaran. Jadi ceritanya gw rame-rame kesana dengan temen traveling gw, sekitar 40orangan nyewa bis besar. BUKAN! ini bukan darmawisata anak SD kok. Kita cuma sesama pecinta traveling yang dipertemukan Tuhan, halah..Berangkat Hari Jumat malam dan pulang Hari Minggu, semua itu cukup dengan membayar Rp. 475.000 udah all in.

Perjalanan dari Jakarta menuju Green Canyon sekitar 8-9 jam. Karena kita berangkat malam hari, jalanan pun cukup lancar. Green Canyon terletak di daerah Pangandaran deket dengan Ciamis. Selain Green Canyon ada objek wisata lain yang bernama Batukaras di daerah itu. Sebenernya nama asli Green Canyon itu sendiri adalah Cukang Taneuh, yang artinya jembatan tanah. Namun sepertinya nama Green Canyon lebih populer dan lebih nge-hits diucap di kalangan masyarakat.

Objek wisata ini merupakan aliran sungai Cijulang yang melintas melewati gua. Diapit juga dengan bukit, bebatuan dan pepohonan yang cukup rindang. Warna airnya kehijauan dan sangat jernih, karena warnanya yang hijau itulah (mungkin) dinamakan Green Canyon.

Di Pangandaran banyak tersedia hotel, baik yang kisaran harganya murah ataupun mahal. Untuk menuju Green Canyon dari tempat gw menginap, bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan menggunakan mobil pick up. Jalanannya cukup terjal dan berdebu karena bukan jalanan beraspal. Tujuan kita kesana adalaaaaah body rafting, wohooo! Setelah sampai di dermaga, kita diberi alat keselamatan. Lalu kita diantarkan ke sebuah bukit dan kita harus menuruni bukit tersebut dengan berjalan kaki yang merupakan garis start menuju Green Canyon.

Sebaiknya yang mau body rafting ataupun berenang jangan membawa barang-barang berharga kalo ngga mau kecebur. Hp, perhiasan, kamera (kecuali kamera underwater), uang dll dititipkan saja ke pemandu, karena mereka yang akan menjaga barang-barang kita. Dijamin aman ko.

Dari mulut gua Green Canyon bisa dilanjutkan dengan berenang atau merayap di tepi batu. Untuk yang ngga bisa renang jangan khawatir, karena akan disediakan pelampung. Bagi yang suka hal-hal yang menantang, ada sebuah batu besar dengan ketinggian sekitar 5m, kita bisa terjun bebas dari batu tersebut ke sungai. Meski harus menempuh perjalanan seperti ini terus menerus, kurang lebih sekitar 2-3 jam, perjalanan dipastikan akan aman dan tidak membosankan. Karena kita disuguhi pemandangan alam yang super hijau. Aliran air di sungai ini cukup panjang, kita bisa mengikuti arus dari air terjun yang mengalir. Ada beberapa arus yang memang cukup deras, tapi tenang aja banyak pemandu yang akan membimbing walaupun gw berkali-kali diceburkan secara tidak senonoh.hih! Harap hati-hati disini banyak karang. Perlu diingat untuk yang sudah ditengah perjalanan, ngga bisa kembali lagi ke tempat awal karena harus meneruskan perjalanan sampai selesai. Setelah sampai di garis finish bisa dilanjutkan naik perahu menuju dermaga.

20140225-234024.jpg

Dianjurkan untuk yang mau kesini untuk memilih waktu di musim kemarau. Karena kalau musim hujan aliran sungainya cukup deras dan airnya berwarna kecoklatan. Rugi kan ngga bisa liat cantiknya Green Canyon?

Happy Traveling!

Pagiku Kini

Bangun tidurku terbuat dari mendung sisa semalam
Yang masih menyisakan hujan
Dibalur dengan perjuangan perlahan
Yang harus kuawali dari nol
Bersama kepulan harapan dan kepingan doa
Yang diuraikan dengan penuh cinta
Pagiku kini..menuju kamu dan pergi dari masa lalu

I’m officially broke up 😦

Rindu

Masih bolehkah aku mengucap rindu?
Diantara waktu yang semakin dekat untuk kita bertemu.
Mari ulurkan tanganmu, biar kusambut dan kita bisa bergandengan tangan menunggu waktu senja.
Lalu duduk berdampingan dengan aku bersandar di dadamu, sejenak utuh memilikimu dan merasakan berada dalam kenyamanan.
Aku ingin menatap mentari, ditemani sepasang mata coklatmu.
Sampai ia terbenam.