(Travel Diaries – 9) Traveling With Love: Paradise in Lombok

24-26 Agustus 2012

Lombok bisa dikatakan destinasi liburan yang pesonanya sayang untuk tidak dinikmati. Siapa sangka tahun lalu gw berucap “suatu saat pasti gw akan menjajaki Lombok” pada akhirnya tahun ini, tepatnya bulan Agustus, keinginan pun jadi kenyataan. Hore!

Traveling kali ini dalam rangka quality time bersama orang-orang tercinta. Salah satu sahabat gw, temen seperjuangan, seperkuliahan dan seperboboan sebentar lagi akan minggat dari Indonesia dan akan melanjutkan studinya ke Budapest, ya singkat kata mau menghabiskan sisa waktu bersama *kaya mau mati besok yah* btw, ini adalah traveling terpanjang gw. Seminggu! And finally here we go, Lombok 🙂

Penerbangan kali ini gw menggunakan maskapai Lion Air Jakarta-Lombok seharga 740ribu dan pulang lewat Bali menggunakan maskapai Air Asia seharga 637ribu. Penerbangan Jakarta-Lombok memakan waktu 2 jam perjalanan. Ini kali pertama gw menginjakkan kaki di Bandara Praya Lombok. Kebersihan disini menurut gw kurang, tapi jauh lebih baik lah ketimbang Bandara Ngurah Rai Bali yang suasananya semrawut kaya di ITC gitu. Sesampainya di bandara, kita udah memesan rental mobil sebelumnya, Pak Marwan namanya (081936715968). Kita memilih mobil Xenia dengan harga 300ribu/hari tanpa supir. Karena masih menjelang lebaran, harga sewa mobil agak sedikit mahal. Tapi kalau lagi low season harganya bisa jauh lebih murah dari itu.

Destinasi pertama gw adalah mengunjungi pantai yang namanya sudah tidak asing lagi: Pantai Senggigi. Menurut gw pantainya standar aja.

Setelah numpang lewat di Sengiggi (dan tanpa berfoto), jalan-jalan kita berakhir sementara dengan makan siang di daerah Cakranegara, Mataram. Gw menemukan resto Ayam Taliwang yang rasanya endeuuus banget, nama restonya Ayam Taliwang Irama, berada di Jalan Ade Irma Suryani. Sumpah enaaaaaakkkk! Kalo main ke Mataram, wajib mampir ke tempat ini deh. Es kelapa crystal-nya juga mantap banget. Es kelapa muda dengan campuran madu putih dan sarang burung walet. Oh iya nasi putih disini itungannya per orang, bukan per piring. Jadi, bisa makan sepuasnya. Hore banget buat para kuli nista seperti kami.

Selesai mengisi perut yang keroncongan, kita pun lanjut ke Pantai Kuta Lombok. Not bad-lah, tapi disini rame banget. Keramaiannya kurang lebih sama aja kaya Pantai Kuta Bali. Tapi pantainya jauh lebih bagus ketimbang Kuta di Bali. Beberapa tahun yang lalu, menurut teman gw Kuta Lombok masih sepi. Sekarang sudah banyak bungalow, ATM tersedia dimana-mana, resto-resto dengan berbagai pilihan pun bertebaran. Kuta Lombok sekarang sudah banyak kemajuan. Saking ramenya gw malas berlama-lama disini, mungkin karena lagi peak season juga. Lagi pula sudah terlalu sore, masih ada destinasi yang mau kita kunjungin.

Tanjung Aan. Ngga jauh dari Pantai Kuta Lombok kita bisa menikmati pantai yang indah banget, tepatnya di sebelah timur. Sayangnya kita kesini sudah sore, jadi agak gelap. Tanjung Aan terkenal dengan pasirnya yang putih dan bersih. Gw suka banget disini, recommended. Tempatnya agak sepi. Mungkin karena pantainya ngga bisa dipakai buat berenang, snorkeling ataupun surfing, orang jadi kurang tertarik. Atau mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui keindahan Tanjung Aan. Untuk menuju kesana track yang harus dilalui lumayan panjang dan jauh. Ada beberapa jalan yang memang kurang mulus, untungnya pake mobil rental. Hajaaaarrr! Kalau sudah menjelang malam daerah Tanjung Aan tidak tersedia penerangan. Jadi yang mau kesini jangan sampe pulang kemaleman ya, karena gelap banget.

Dari Tanjung Aan kita bermalam di daerah Mataram. Di Mataram banyak tersedia penginapan yang murah. Pilihan kita jatuh pada Hotel Caturwarga. Harga per malamnya 250 ribu sudah termasuk sarapan (teh manis+roti). Fasilitas hotel ini double bed, TV LCD, AC, private bathroom (shower+toilet duduk+hot water), lemari, meja dan kursi. Hotelnya bersih dan nyaman.

Satu hari menginap di Mataram, besoknya kita langsung menyebrang ke Gili. Next destination kita adalah Gili Trawangan, diantar langsung ke bangsal oleh supir rental. Untuk menuju bangsal, yang merupakan tempat penyebrangan menuju Gili Trawangan, harus disambung lagi dengan mengendarai delman. Orang Lombok menyebutnya dengan cidomo, tarifnya 20ribu.

Untuk menuju Gili Trawangan, kita menggunakan perahu motor seharga 10ribu/orang, kalau mau carter perahu juga bisa, dipatok harga 70ribu/kapal, dan mereka ngga mau ditawar aja loh. Kira-kira perjalanan dari bangsal menuju Gili Trawangan kurang lebih 45menit. Buat yang takut ombak dan suka mabuk laut, jangan lupa sedia antimo atau minyak angin, hehe.

Memang luar biasa pantai di Gili Trawangan ini, indah banget dengan pasir putih di sepanjang pantainya. Setelah jalan-jalan dan tengok sana sini, kita pun mencari tempat penginapan. Gw menyewa penginapan yang tidak jauh dari pantai. Nama hotelnya Sunrise. Bentuknya ada yang biasa ada yang seperti rumah gubuk khas Lombok, setiap kamar ada hammock di depannya. Hotelnya cukup besar, kamar mandinya pun luas. Kisaran hotel di Gili Trawangan rata-rata 400ribuan ke atas untuk yang AC. Yang Non AC tentunya banyak yang lebih murah. Kalau mau hotel dengan kisaran 300ribuan ber-AC juga ada, tapi letaknya agak jauh di dalam dan pastinya tidak terlalu berdekatan dengan pantai.

FYI, di Gili hampir semua airnya payau. Jadi kalau sikat gigi atau mandi ya bakal kerasa asin-asinnya gitu, iyuuuhhh banget bikin mual. Gw sikat gigi kumur-kumurnya aja pake aqua. Suasana di Gili Trawangan serupa dengan Kuta Bali. Hingar bingar. Party All Night Long. Pub, bar, resto bertebaran di kanan kiri sepanjang jalan dari ujung ke ujung. Dan pastinya Gili Trawangan itu bikini, underwear and boops everywhere.

FYI, di Gili tidak ada penyewaan motor, transportasi disini hanya menggunakan sepeda dan cidomo. Udaranya bebas polusi. Jadi seger banget. Orang-orang disini lebih banyak yang berjalan kaki.

Untuk restonya, gw pastikan semua rasanya standar. Western Food, Chinese Food ataupun Indonesian Food semua rasanya kurang lebih sama. Tidak ada yang istimewa. Gili Trawangan hanya menawarkan suasana dan tempat yang ciamik, langsung menghadap ke pantai. Untuk masalah rasa makanan disesuaikan dengan lidah bule. Kisaran harga makanannya 30ribu keatas dan semua restonya dikenakan pajak 15-20%. Sedangkan untuk orang lokal yang berjualan disini bebas pajak. Jadi gw sarankan mending lebih memilih tempat makan orang lokal, selain harganya yang lebih terjangkau soal rasa juga jauh lebih enak.

Di Gili Trawangan, ada 1 tempat makanan lokal favorit gw, rasanya lebih enak dibanding warung jajanan lokal lainnya. Buat yang suka makanan “medok” bumbu, coba deh mampir di Warung Kino ini. Pasti banyak orang yang kurang aware dengan tempat ini, karena letaknya agak menjorok ke dalam. Warung ini menyajikan masakan rumahan yang semua jenis masakannya rasanya enak dan harganya terbilang murah.

Ngga lama di Gili Trawangan, besoknya gw menyebrang ke Gili Air, pulau kecil yang berada di sebelah barat Pulau Lombok. Salah satu dari 3 Gili yang terkenal, Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno (sayang gw ngga sempet ke Meno). Jarak antara ke 3 Gili ini tidak terlalu jauh. Untuk menuju Gili Air bayar perahu motornya 23ribu/orang, sedangkan kalau mau carter 200ribu/kapal untuk sekali jalan. Gw pilih yang carter dong. Etapi bukan gara-gara kebanyakan duit, tapi karena ketinggalan perahu 😦 Jadwal perahu menuju Gili Air itu ada 2 kloter. Jadwal pertama jam 09.30 WITA, jadwal kedua jam 15.00 WITA.

Gili Air sangat indah. Gw suka banget. Tempatnya lebih sepi dan pantainya jauh lebih bagus dari Gili Trawangan. Tapi harga penginapannya lebih mahal. Disini yang dijual ketenangannya, karena tidak terlalu bising. Penduduk Lombok terkenal ramah-ramah bukan main, mereka sering sekali menegur turis maupun orang dari Indonesia itu sendiri. Rata-rata dari mereka pun pandai berbicara Bahasa Inggris. Karna kesehariannya mereka selalu berkomunikasi dengan bule, jadi mayoritas penduduk fasih berbahasa Inggris.

Puas gosong-gosongan di Gili, besoknya kita langsung nyebrang menuju Bali menggunakan speed boat seharga 300ribu/orang, waktu tempuh Gili-Bali sekitar 1,5 jam dan transit 1x di Pulau Lombok. Kalau mau alternatif yang lebih murah bisa menggunakan kapal feri, tapi memakan waktu yang lebih lama, sekitar 4 jam. Semaput aja itu sih :p

Lombok sudah menjadi destinasi liburan yang digemari banyak traveler. Ngga hanya di Gili tapi juga beberapa pantai di Lombok yang tak kalah menariknya. Coba dan rasain deh “surga” yang ada disini, dijamin kepengen balik lagi.

Tunggu lanjutan cerita di Bali yah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s